PKS NEWS UPDATE:
« »

Jumat, 01 Juni 2012

Visi Misi Hidayat+Didik

 

 

 

 

 

Visi

Menuju Jakarta yang SEJAHTERA, MODERN, dan BERBUDAYA.

Misi

  • Menjamin pemenuhan kebutuhan pendidikan 12 tahun dan peningkatan kualitas pendidikan
  • Meningkatkan akses pelayanan kesehatan khususnya bagi warga miskin dan tidak mampu
  • Menyediakan kebutuhan dasar pemukiman dan air bersih dengan akses yang lebih mudah
  • Mewujudkan jaminan sosial bagi penduduk khusus (manula, ibu hamil, balita dan penyandangan cacat)
  • Mendorong pengembangan industri kreatif dan pariwisata untuk menciptakan lapangan kerja
  • Mengembangkan UKM, industri rumahan dan sektor informal
  • Mendorong partisipasi publik dalam kebijakan dan penurunan kriminalitas
  • Mewujudkan Jakarta sebagai Kota Utama di Asia
  • Menyediakan transportasi publik yang modern, terjangkau dan manusiawi
  • Membangun sistem pencegahan banjir melalui peningkatan daya resap air tanah dan infrastruktur pengendali banjir
  • Mengembangkan infrastruktur kota modern (teknologi informasi dan kesediaan energi)
  • Menciptakan birokrasi yang bersih dan responsif dalam melayani publik
  • Mewujudkan iklim investasi yang kondusif dan perizinan usaha yang mudah
  • Mengembangkan industri jasa keuangan, teknologi informasi dan cyber city
  • Mewujudkan kemananan dan kepastian hukum yang sama bagi semua warga
  • Meningkatkan ruang terbuka hijau dalam rangka mewujudkan "Jakarta Green City"
  • Mewujudkan keseimbangan lingkungan hidup dan daya dukung kota
  • Mewujudkan tata ruang integral dan taman interaktif bagi warga
  • Melestarikan nilai budaya lokal dan mengembangkan Jakarta sebagai kota ragam budaya
  • Menciptakan keharmonisan warga yang dibingkai dengan kerukunan antar umat beragama dan kearifan lokal

Wawancara Didik J. Rachbini: Jakarta Itu Tiga: Sejahtera, Modern, dan Berbudaya

Wawancara Didik J. Rachbini: Jakarta Itu Tiga: Sejahtera, Modern, dan Berbudaya

01 Juni 2012 - 12:00:00 WIB
Rubric :  EkonomiBisnis
Diposting oleh : Ihsan ()




Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) DKI sudah di depan mata. Persaingan para kandidat calon pengisi kursi DKI-1 dan DKI-2 pun dipastikan akan sangat ketat dan sengit. Maklum saja, Jakarta adalah ibu kota negara. Di sinilah magnet 60% ekonomi nasional memikat warga dengan berbagai latar belakang agama, budaya, dan pendidikan, dari Sabang hingga Merauke. Sadar akan potensi keragaman itu, Hidayat Nur Wahid (HNW)-Didik J. Rachbini (DJR) tampil ke depan membuka mimpi menjadi kenyataan agar Jakarta sejahtera, modern, dan berbudaya.

Bagaimana pasangan yang diusung oleh PKS dan PAN ini menerjemahkan visi dan misi membawa Jakarta ke depan? Didik J. Rachbini, sang calon wakil gubernur,  berbagi pandangan visi dan misi HNW-DJR dalam sebuah wawancara khusus dengan Fekum Ariesbowo W. dari Warta Ekonomi di ruang kerjanya sebagai pengajar Pascasarjana Universitas Mercu Buana, Menteng Raya, Jakarta, Senin (21/5) lalu. Berikut nukilannya.

Apa solusi Anda untuk mengatasi kemacetan?
    Solusinya adalah, tidak bisa tidak, melalui transportasi masal. Ada tiga pilar dalam hal ini. Pertama, dengan maksimalisasi armada busway sebanyak mungkin sehingga orang tidak lagi menunggu sampai satu jam. Lalu, siapa yang memasok armada? Itu bisa pemerintah, bisa swasta. Mereka dipersaingkan,  mana yang lebih efisien. Mereka yang lebih efisien, maka dapat memasok armada yang lebih banyak.
    Kedua, monorel. Itu harus berjalan karena akan menambah kapasitas. Pilar terakhir adalah mass rapid transit (MRT) yang menghubungkan jalur utara-selatan dan timur-barat. Sudah ada ahli transportasi yang membantu kami. Soal pendanaan monorel dari swasta, MRT juga bisa swasta. Skema kerjasama dengan skema public-private partnership (PPP dan sudah banyak yang meminta.

Soal banjir Ibu Kota, bagaimana pola penanganannya?
    Untuk menanggulangi banjir, ada tiga strategi besar. Strategi pertama, kanal sudah ada yaitu Kanal Banjir Barat dan Kanal Banjir Timur. Satu hal yang perlu diurai adalah membuat kanal-kanal sekunder di bagian kanan-kiri kanal banjir yang ada. Atau dengan kata lain, memaksimalkan kanal dan distribusinya. Saat ini banyak wilayah yang hanya mengalami genangan saja. Ketika genangan itu masuk kanal, sudah beres.
    Kedua, dengan normalisasi sungai di Jakarta yang saat ini ada 13. Sungai harus diperlebar. Lalu yang tinggal di pinggir sungai itu secara bertahap masuk bersamaan dengan konsolidasi lahan untuk permukiman, dari permukiman kumuh menjadi permukiman bersih. Jadi, mereka tidak digusur dan sungainya tetap bersih. Tidak apa-apa, sungainya menjadi lebar lalu kanan kirinya dibangun ke atas sehingga mereka tidak perlu kehilangan tanah. Ini harus dimaksimalisasikan dengan Depok, Bogor, dan Cianjur.
    Strategi ketiga adalah membuat reservoir-reservoir di bawah tanah. Ada yang kecil dalam bentuk biopori menjadi massal. Ada juga reservoir besar di bawah tanah. Jl. Sudirman, misalnya, nanti bisa jadi kawasan khusus diwajibkan pemerintah untuk membuat reservoir. Tidak tertutup kemungkinan di wilayah-wilayah lain.

Apa yang akan dilakukan berkaitan dengan mempermudah perizinan investasi?
    Birokrasi kita runyam dan DKI harus memperbaiki birokrasinya. Birokrasi DKI harus memiliki standar. Apabila perizinan tidak selesai dalam waktu satu minggu atau 15 hari, maka pelaku usaha sudah termasuk diizinkan dan sudah valid. Semua harus dibatasi seperti itu dengan menggunakan standar internasional karena ini Jakarta.
    Kalau bisa tiga hari, mengapa harus dua bulan? Kalau itu tidak bisa langsung, maka kami harus turun melihat. Saat ini investor di sini masih bisa hidup dengan suasana yang ruwet dan pertumbuhannya masih 6,5%. Itu artinya apa? Kalau tidak ruwet, mereka bisa tumbuh lebih cepat lagi.
Sektor apa yang akan didorong untuk sumber pendapatan daerah jika terpilih nanti?
    Kami akan menjadikan pariwisata sebagai program kami. Mengapa? Karena Jakarta ini ibu kota yang memiliki pacuan kuda, warisan gedung lama, museum, kesenian, budaya, dan punya macam-macam. Jakarta juga punya wisata belanja. Semua itu harus dimaksimalkan sekaligus digabungkan dengan potensi wisata yang lain seperti Puncak, Bandung. Jika semua itu maju, transaksinya banyak, maka pajak yang diperoleh juga akan banyak.

Namun, bagaimana Anda mengatasi masalah pengadaan dan sengketa lahan?
    Ya memang tanah di Jakarta terbatas, dan itu juga harus hati-hati. Namun,  bagaimanapun juga, kami akan semaksimal mungkin memanfaatkan lebih banyak lagi ruang-ruang yang penting bagi publik agar Jakarta layak sebagai kota. Contohnya, ada ruang terbuka hijau.
    Lalu kami juga sudah mulai memikirkan bagaimana banyak kantor-kantor pemerintah dipindahkan. Ini harus bicara dengan pemerintah pusat, sehingga beban Jakarta lebih ringan. Kalau ratusan ribu PNS dan keluarganya pindah, maka beban Jakarta akan menjadi lebih ringan. Namun, oleh karena itu pula DKI harus berbicara dengan pemerintah pusat karena merekalah yang memutuskan. Apabila ada sengketa lahan, kita kembalikan saja ke hukum.

Adakah strategi khusus yang disiapkan untuk membawa Jakarta dengan identitas yang khas melalui pendekatan brand kota?
    Jakarta sudah punya brand yaitu Monas, kalau perlu ditambah Keong Mas. Jakarta itu kota jasa dan akan kami perkuat sebagai kota jasa. Jakarta itu pusat keuangan Indonesia dan nanti akan menjadi pusat keuangan regional. Jakarta juga pusat perdagangan ekspor impor, jasa pariwisata, dan ekonomi kreatif. Namun, yang masih menyedihkan, jasa sektor informal yang masih banyak. Jasa itu banyak, jadi tidak bisa dibatasi. Semua itu tumbuh sendiri, tidak perlu dibatasi.

Bagaimana dengan pemberdayaan UKM?
    UKM itu masalahnya kekurangan tempat. Oleh karena itu, tempatnya harus diberikan. Banyak cara memberikan. Pertama, ada 150 pasar tradisional, itu bisa diberikan karena banyak yang kosong. Nanti diatur bagaimana caranya. Kedua, dengan membangun miniatur-miniatur pasar kecil. Dengan tanah 500 meter persegi,  kita bisa bangun empat lantai untuk mengangkut pedagang kecil-kecil.
    Ketiga, pada akhir pekan (Sabtu-Minggu) ada beberapa tempat lapang bisa menjadi pasar. Lalu di mal boleh jadi pasar dengan minta kerjasama dari subuh sampai pukul 10 pagi boleh gratis untuk UKM. Kalau perlu, bekerja sama dengan mal bahwa 10%–20% areanya digunakan untuk CSR UKM.
    UKM harus mendapatkan tempat sebaik-baiknya selain kredit. UKM itu masalahnya tiga, setelah saya meriset belasan tahun, yaitu modal, keterampilan, dan tempat usaha (pasar). UKM harus terintegrasi dengan tata ruang kota dan diberi tempat yang layak agar mereka bisa berdagang dengan bagus, tidak di jalan.

Perlukah pembangunan kawasan ekonomi baru dan revitalisasi kawasan khusus yang sudah ada, seperti Pulogadung, misalnya?
    Tidak perlu. Urusan industri tidak di Jakarta.

Dalam 100 hari pertama, jika terpilih sebagai pemuncak DKI nanti, terobosan apa yang akan dilakukan berkaitan dengan good corporate governance?
    Untuk birokrasi yang melayani investasi dan bisnis,  harus setara secara internasional dan cepat. Mulai dari situ dan fokus pada bisnis diutamakan sehingga bisnis menjadi lancar.

Jakarta akan Anda  bawa ke mana nantinya?
    Jakarta itu tiga: sejahtera, modern, dan berbudaya. ###

Foto: Sufri Yuliardi
Sumber: Warta Ekonomi No.11/2012

DPT Fiktif Belum Berubah

POLITIK - PILKADA
Jum'at, 01 Juni 2012 , 12:30:00

DINILAI belum ada perubahan berarti dalam perbaikan Daftar Pemilih Tetap (DPT), partai politik protes. Pasalnya, hingga Kamis (31/5) mereka menganggap penyisiran data pemilih yang dilakukan KPU Provinsi DKI Jakarta, dianggap belum ada kemajuan berarti. Masih ditemui NIK ganda serta pemilih yang terdaftar lebih dari satu kali. Tim pasangan calon juga mencecar Kadis Dukcapil DKI Purba Hutapea, terkait adanyak NIK ganda.

 “Tidak ada perubahan dari yang kami debatkan minggu lalu. Baik itu NIK ganda dan lain-lain. Kami sudah pelajari soft copy yang diberikan KPU,” ujar juru bicara tim Jokowi-Ahok, M Taufik, saat rapat penyampaian pandangan DPT di kantor KPU DKI, Kamis (31/5) kemarin.

Pria yang juga Ketua DPD Partai Gerindra DKI itu juga mempertanyakan sikap KPU DKI jika mendapati NIK ganda dipakai sama. “Kalau dua-duanya bilang ada, apa sikap KPU. Saya kira banyak yang seperti itu,” terang Taufik.

Dia menambahkan NIK ganda ditemukan ribuan. Kalau KPU Provinsi DKI asal coret dia bisa di laporin. “Dukcapil harus ikut bertanggungjawab terkai NIK ganda,” beber Taufik.

Sementara itu, Purba Hutapea, Kadis Dukcapil DKI Jakarta mengatakan, tidak ada NIK yang berulang. Kalau ada di lapangan ditemukan, bisa salah input atau pemalsuan.”Jika  ada dua, satu pasti palsu. Jadi di DP4 tidak ada NIK yang berulang. Ibu Dahliah (Ketua KPU DKI), kalau diperlukan staf kami, bisa kami kirim untuk membantu terkait hal itu,” pungkas Purba.

Sementara itu, tim advokasi pasangan Hidayat Nur Wahid-Didik, Agus Otto mengatakan, pihaknya mempersalahkan format pengisian dan penghitungan yang tidak sesuai. “Format pengisian data pemilih di PPK Jakarta Barat kok berrbeda dari aturan. Kemudian, masalah penambahan data pemilih jumlah totalnya juga salah,” beber Agus. “Menurut kami itu menunjukkan upaya sistematis, sebab KPU itu kan sudah menyosilisasikan penggunaan form dan penetapan DPT di kotamadya,” ujarnya.

Agus menambahkan, jika data dari bawah bermasalah, ke atas juga demikian. Pihaknya mempertanyakan, bagaimana mekanisme seperti itu bisa sampai terjadi. “Kami masih punya banyak data di Kotamadya Jakarta Barat, ini kami beruntung mendapatkan data ini, masalahnya bagaimana,” ujarnya. “Hasil pleno disahkan dulu, seperti di Cengkareng,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua KPU Provinsi DKI Jakarta Dahliah Umar mengatakan, pihaknya menghargai masukan parpol dan tim pasangan calon. Semua temuan kata dia, ditelusuri. “Terus kami lakukan itu,” bebernya.

Adapun anggota KPU Provinsi DKI Jakarta yang membidangi data pemilih, Aminullah mengatakan, pihaknya menelusuri secara langsung indikasi NIK ganda dan pemilih terdaftar dua kali. “Kami punya tiga saringan untuk menekan hal itu. Pertama nama, kemudian NIK dan ketiga nama dan NIK,” beber Aminullah.

Sementara itu, Ketua Panwaslu DKI Jakarta Ramdansyah mengatakan, pihaknya sudah jauh hari mengingatkan adanya NIK ganda. “Bulan Januari kami sudah sampaikan itu,” pungkasnya. (dai)
 
Sumber : http://www.jpnn.com/read/2012/06/01/129181/DPT-Fiktif-Belum-Berubah-

Tarbiyah dan Pemenangan Pemilu

dakwatuna.com - Konsekuensi keislaman kita mengharuskan kita tunduk pada ajaran-ajaran Islam yang syumul, menyeluruh dan menyentuh segala lini kehidupan, baik dalam kehidupan kita sebagai satu individu muslim maupun kehidupan kita sebagai makhluk sosial dalam bingkai masyarakat.

Masing-masing menuntut warna yang berbeda di atas warna-warna lainnya. Allah SWT mengistilahkannya dengan istilah Shibgatullah atau celupan Allah.

Istilah celupan sudah sangat cukup mengetahui makna yang terkandung dalam kata tersebut. Sering minum teh celup? apa jadinya jika teh celup dimasukkan ke dalam air panas dalam gelas, air yang ada dalam gelas, serentak terwarnai. Artinya bahwa ketika kita memilih Islam sebagai jalan hidup, maka seluruh sisi kehidupan kita pun mesti ikut terwarnai dengan warna pilihan Allah, dengan celupan Allah. Baik dalam kehidupan kita sebagai individu, maupun dalam kehidupan kita sebagai bagian dari masyarakat.

Kewajiban individu kita sebagai hamba Allah adalah bagaimana kita mengabdi dan terus menjalin dan meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah, membina diri kita untuk terus menumbuhkan keimanan dalam diri, menghidupkan hati, meningkatkan pemahaman keislaman kita, dan membina keluarga Islam.

Dan kewajiban sosial kita sebagai satu bagian dari masyarakat, adalah membawa warna-warna Islam tadi ke masyarakat luas, dan kitalah yang menjadi teladan dalam keislaman, merubah kebiasaan umum dengan warna Islam, melakukan langkah-langkah keshalihan sosial. Menciptakan masyarakat islami, membangun pemerintahan yang bersih, dan menjunjung nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.

Dan Tarbiyah telah menjadi tsawabit [bagian permanen] dalam dakwah sebagai alat utama untuk melakukan perubahan yang dicita-citakan dalam diri umat, sesuai dengan firman Allah Swt., “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah suatu kaum, hingga ia merubah apa yang ada dalam dirinya”. Dan narasi perubahan yang kita cita-citakan adalah perubahan yang mencakup dua hal, pertama adalah individu-individu yang bekerja dalam masy’ru Al-Islami (proyek peradaban), dan kedua adalah kaum muslimin secara umum dalam masyarakat.

Dan bahwa pencapaian tujuan tarbiyah dalam diri kader dakwah yang bekerja untuk menegakkan proyek peradaban, tuntutannya jauh lebih besar dibanding dengan kaum muslimin secara umum. Namun kita sepakat benang merah di antara keduanya, bahwa tujuan-tujuan tarbiyah tidak mungkin diwujudkan, kecuali melalui sistem tarbawi dan bukan melalui kegiatan-kegiatan umum seperti ceramah-ceramah, tulisan-tulisan, memberikan pelayanan, karena seluruh kegiatan-kegiatan ini tidak memiliki efek pengaruh yang kuat dan terus menerus, kecuali melalui system tarbawi, mari kita renungkan apa yang pernah dikatakan oleh tokoh pelopor pergerakan dari lembah sungai Nil, beliau mengatakan:
إن الخُطب والأقوال والمُكاتبات والدروس والمحاضرات وتشخيص الداء ووصف الدواء كل ذلك لا يُجدي وحده  لها نفعًا، ولا يصل
 بالداعين إلى هدف من الأهداف؛ ولكن للدعوات وسائل لابد من الأخذ بها والعمل
لوسائل العامة للدعوات لا تتغير ولا تتبدل ولا تعدو هذه الأمور الثلاثة:
     الإيمان العميق-
     التكوين الدقيق-
     العمل المتواصل-

“Sesungguhnya ceramah-ceramah, perpustakaan-perpustakaan, pengajian-pengajian, dan muhadharah, analisa penyakit dan menyebutkan nama obatnya, semua itu tidak banyak memberikan manfaat, dan tidak mengantarkan para penyeru perubahan sampai pada tujuan-tujuan yang dicitakan, akan tetapi dakwah itu memiliki tiga wasilah umum, yang tidak berubah-ubah, dan tidak berganti-ganti, tidak keluar dari tiga hal berikut:
  1. Keimanan yang dalam (Al-Iman Al-Amiq)
  2. Pembentukan yang jeli (At-Takwinul Ad-Daqiq)
  3. Amal yang berkesinambungan (Al-Amal Al-Mutawashil)

Mengenai tujuan dakwah yang ingin dicapai, dengan itu para kader dakwah bekerja untuk mewujudkannya, baik dalam diri mereka maupun dalam masyarakatnya, beliau mengatakan:
“Sesungguhnya tujuan dakwah, terfokus pada pembentukan generasi baru dari orang-orang mukmin dengan ajaran Islam yang shahih, dan generasi ini bekerja mewarnai umat dengan warna dan celupan Islam dalam segala sisi kehidupan mereka “Dan celupan Allah, maka siapakah yang lebih baik celupannya selain dari celupan Allah” [QS. Al-Baqarah: 138].

Dan wasilah untuk itu adalah merubah kebiasaan umum, dan membina anshar dakwah (pendukung dakwah) dengan ajaran Islam, hingga mereka menjadi teladan pada yang lainnya dalam memegang teguh ajaran Islam, perhatian pada ajaran Islam, dan berhukum dengan ajaran tersebut”.

Celupan Tarbiyah
Maka dari sini, jelas bagi kita bahwa seluruh pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan, harus terwarnai dan tercelup dengan celupan dan warna tarbiyah. Yang kita maksud dengan celupan tarbiyah adalah pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan itu – apa pun bentuk dan jenisnya – memiliki kontribusi positif dalam salah satu sisi kepribadian kita atau dalam seluruh sisi kepribadian kita yang empat, yaitu [sisi ma’rifah atau pengetahuan, sisi Imaniyah atau keimanan, sisi nafsiyah atau kejiwaan, dan sisi sulukiyah atau perilaku dan atau attitude].

Satu contoh misalnya, pekerjaan-pekerjaan sosial, bisa jadi pekerjaan-pekerjaan, sifatnya sosial semata, yang hanya bertujuan untuk mengurangi beban penderitaan orang lain tanpa melihat sisi lain, namun bisa juga pekerjaan sosial ini menjadi wasilah menanamkan pengaruh positif dan perubahan yang berkesinambungan dalam diri mereka.

Saat ini, kita baru saja memutuskan untuk berjuang dalam gelanggang politik, mengusung salah satu kader dakwah untuk berjuang melalui jalur konstitusi, ya benar kita terjun untuk menang dan bukan untuk kalah, hari-hari ke depan adalah hari-hari yang penuh perjuangan dengan perhelatan dan aktivitas politik dalam pemilu. Masa-masa dalam pemilu ini bisa jadi hanya mengumpulkan jumlah suara sebanyak-banyaknya, namun bisa juga menjadi wasilah tarbiyah yang memberikan pengaruh positif bagi diri kader, yang melahirkan perubahan positif dalam diri kader, walau hanya satu sisi kecil dalam kepribadian kader, agar kader setelah musim pemilu ini, menjadi kader yang lebih sensitive dan lebih ijaby, kader yang lebih banyak memiliki pengaruh di masyarakat, menggandeng tangan masyarakat untuk terus meniti tangga keislaman  dan berkomitmen dengan Islam yang shahih dengan bertahap.

Mewarnai Pemilu dengan Celupan Tarbiyah
Ada banyak cara dan faktor agar aktivitas-aktivitas dalam pemilu ini, memberikan kontribusi – dengan izin Allah SWT – secara tarbiyah, di antaranya:

Pertama adalah kekuatan hubungan dengan Allah Azza wa Jalla (Quwwatu Shilah billah), dan meningkatkan mutu keimanan yang hakiki dalam hati, yang dengannya seorang kader diharapkan berada dalam kondisi jernih, kader memiliki kedisiplinan syar’i [Indhibath Syar’i], lebih positif [ijaby].

Perlu kita sadari bahwa factor penting, kita dapat mewujudkan cita-cita tarbiyah dan kemenangan dakwah adalah factor kekuatan ini, faktor Quwwatu shilah billah, kekuatan hubungan dengan Allah Swt., maka kadar kekuatan hubungan kita dengan Allah Swt., itulah yang mendatangkan pertolongan, dukungan, bantuan, dan perlindungan dari Allah Azza wa Jalla’, Allah SWT berfirman:  “Dan Dia-lah yang melindungi orang-orang shalih” [QS. Al-A’raf: 196], “Allah Pelindung orang-orang yang beriman” [QS. Al-Baqarah: 256].

Sujud di pertengahan malam, disertai linangan air mata, itulah yang meruntuhkan benteng yang kokoh dan mengguncang arsy dengan pertolongan Allah Swt.

Maka tidak benar, jika ada seorang kader yang beralasan dengan kesibukannya dalam aktivitas politik dalam masa-masa pemilu,  lantas menyebabkan ia kurang disiplin dan meremehkan pelaksanaan shalat berjamaah di masjid, atau melupakan wirid-wirid hariannya.

Ketahuilah wahai saudaraku, tiada kebaikan dalam amal yang menyepelekan shalat.

Jika seandainya mobilitas yang besar, bisa dijadikan alasan untuk meremehkan amalan-amalan keimanan, tentulah generasi awal umat ini, tak perlu lagi melakukan shalat-shalat malam dalam peperangan yang mereka ikuti. Renungkanlah surat yang ditulis oleh Pemimpin pasukan kaum Muslimin, Saad bin Waqqash saat akan menaklukkan Qadisiyah – kepada Umar bin Al-Khattab – yang memberikan kabar gembira akan kemenangan pasukan kaum muslimin, dalam suratnya, Saad bin Waqqash menceritakan kondisi kaum muslimin: “Mereka – pasukan kaum muslimin – membaca Al-Qur’an dan jika malam tiba, mereka seperti gema lebah dan di siang hari mereka seperti singa yang tidak ada yang menyerupainya”.

Contoh pemimpin dakwah saat ini, pribadi penulis sendiri pernah melihat bagaimana kualitas ibadah salah satu tokoh revolusi Mesir dan pemimpin Ikhwanul Muslimin, Dr. Isham Aryan. Kejadiannya terjadi di masjid Rab’ah Al-Adewah, Nasr City Mesir, tempat seminar dilaksanakan. Di mana pasca revolusi Mesir, Ikhwan banyak melakukan kegiatan-kegiatan massif, kembali memperkenalkan dakwah Ikhwan, karena sebelumnya Ikhwanul Muslimin diperangi oleh rezim berkuasa, dan sejarahnya banyak distorsi.

Dalam jadwal, acara dimulai setelah shalat Isya, penulis bersama salah seorang teman lebih dulu datang, sebelum Maghrib dan shalat di masjid Rab’ah Al-Adaweh. Tepat jam 19.00 waktu Mesir, Dr. Isham Aryan datang dan langsung melakukan shalat sunah, para pemuda telah berjejer di belakang beliau, hendak bertanya. Ketika Dr. Isham Aryan telah selesai dari shalat sunnahnya. penulis dan teman dari sejak awal telah memperhatikan Dr. Isham hingga beliau shalat, terhitung dua rakaat shalat sunnah pertama dilaksanakan selama kurang lebih 15 menit, ketika beliau selesai dari dua rakaat tersebut, datanglah beberapa pemuda yang telah menunggu dari tadi, namun ternyata Dr. Isham kembali minta izin untuk shalat sunah lagi. Lagi-lagi shalat sunnahnya tak kalah lamanya dengan shalat sunah sebelumnya, hingga adzan Isya, dan baru selesai sesaat sebelum iqamat. Dan para pemuda tersebut, termasuk penulis, baru bisa bertanya ke beliau setelah shalat Isya.

Dalam pikiran saya waktu itu, Subhanallah, ini baru shalat sunnahnya di siang hari begitu lama (setengah jam lebih), bagaimana dengan Qiyam lailnya. Inilah mutu kualitas ibadah seorang pemimpin yang sukses memimpin revolusi Mesir.

Dan cukup kiranya bagi kita untuk menguatkan makna ini, yaitu taujih ilahi kepada Rasulullah Saw., dalam firmannya: “Maka jika kamu telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)” [8] “Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap”. [QS. As-Syarah: 7-8]. Atau jika kamu telah selesai dari menunaikan tugas-tugas dakwah, maka segeralah beribadah.

Mobilitas yang padat dalam pemilu, hanya bisa melahirkan efek pengaruh positif dan meningkatkan mutu keimanan, jika ditunaikan dengan hati yang hidup dan bukan dengan hati yang lalai, hati yang lalai menunaikan tugas-tugas di lapangan tanpa ruh, yang kemudian berefek pada hilangnya pengaruh pada amal tersebut, tidak menambah keimanan dan bahkan tidak sedikit dari kader, terseret pada penyakit futur, setelah sebelumnya sibuk dengan mobilitas pemilu. Oleh karena itu, Rasulullah memperingatkan kita akan bahaya ini, beliau bersabda: “Perumpamaan orang yang menerangi manusia dan melupakan dirinya sendiri seperti lilin”. [Shahih Al-Jami’ As-Shaghir].

Ini bukan berarti bahwa kita harus menyepelekan kerja-kerja dalam pemilu, namun yang dimaksud adalah agar kita memahami urgensitas berbekal dengan sesuatu yang dapat menjadikan kita bisa mengambil manfaat yang sebenarnya di musim-musim pemilu ini.

Pepatah Arab mengatakan yang artinya: “Jika tekadmu telah benar, maka engkau akan diberikan solusi”, artinya jika kita telah memahami pentingnya kekuatan hubungan dengan Allah [Quwwatu Shilah billah], dalam setiap waktu, lebih khusus dalam masa-masa saat ini, dan azam kita telah kokoh, telah lahir sakinah Qalbiyah dan yakin dengan pertolongan Allah akan datang, maka Allah akan memberikan petunjuk-Nya kepada kita bagaimana menyelaraskan antara wirid-wirid harian kita dengan tugas-tugas pemilu tersebut. Dan menjadikan kita tetap menjaga shalat jamaah di masjid, tetap menjaga wirid Al-Qur’an, qiyamulail, dzikir, dan di saat yang sama kita juga sukses melakukan peran kita dalam pemilu dengan sebaik-baiknya. “Dan barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya”. [QS. At-Talaq: 4]. Wallahu a’lam bishawab.
 

Bersama Kesejukan Embun Tarbiyah

dakwatuna.com – Embun itu, ketika engkau melihatnya, akan terlihat bening, ketika engkau merasakannya, akan terasa sejuk dan segar. Embun di pagi itu, selalu dan terus menyejukkan dedaunan dan rerumputan di pagi hari, dan membawa suasana segar, bagi siapa pun yang merasakannya. Embun itu, pada akhirnya akan selalu memberikan kesegaran bagi yang percaya akan manfaat embun.

Begitulah tarbiyah ini ada, ibarat embun, tarbiyah akan menyegarkan kembali hati-hati kita yang mulai kering, akan menyegarkan kembali jiwa-jiwa kita yang mulai melapuk, kering karena iman kita yang compang-camping, melapuk karena jiwa ini terlampau banyak dosa. Bagi yang yakin akan kekuatan dari tarbiyah, maka tarbiyah ibarat embun pagi yang akan menyegarkan dedaunan, sehingga dedaunan terlihat segar, siap menantang teriknya matahari,  siap untuk menatap dunia. Begitulah tarbiyah ini, dia akan selalu memberikan kesegaran kepada hati-hati yang kering, kepada jiwa-jiwa yang lapuk, sehingga hati kembali segar, seperti dedaunan pagi hari, sehingga jiwa kembali kokoh, setegar pepohonan pagi.

Embun pagi, ia mengajari kita, tentang harmoni, karena ia meneteskan kesegaran itu kesemuanya, bukan hanya daun, bukan hanya rumput, tetapi semuanya. Dedaunan, rerumputan, pepohonan pagi, serangga-serangga kecil, semuanya merasakan kesejukan embun pagi. Semuanya merasakan kesegarannya, semua merasakan kelembutan sentuhan tetesannya. Semua menikmatinya. Embun pagi. Tarbiyah. Seharusnya juga demikian. Tarbiyah mengajarkan, bukan hanya dia, bukan hanya mereka, bukan hanya ini, bukan hanya itu, tetapi semuanya. Tetapi menyeluruh. Karena tarbiyah ada untuk menjadi kebermanfaatan bagi semua, bukan hanya untuk saya, bukan hanya untuk dia, bukan hanya untuk mereka, bukan hanya untuk golongan A, bukan hanya untuk golongan C. Semuanya. Ya. Semuanya. Karena tarbiyah ada adalah untuk rahmat bagi seluruh alam.

Dan kalaupun tarbiyah hari ini sedang menuju kearah yang lebih luas, menegara, atau kalau bahasanya Pak Cah adalah menyongsong mihwar dauli, maka sekali lagi ketika kita pun harus bersikap menegara dengan membangun mentalitas negarawan, dan tentu kita harus belajar kepada embun pagi itu. Tentang ketulusannya, tentang kelembutannya meneteskan air kepada dedaunan, kepada rerumputan, kepada pepohonan, kepada alam. Sehingga alam pagi itu terlihat segar. Lalu kemudian kita terhangatkan oleh munculnya mentari pagi, dan tetap merasakan kesejukan embun pagi. Karena yang terpenting ketika kita akan menyongsong tahapan baru dalam tarbiyah, dalam dakwah, adalah tentang mentalitas kita. Mentalitas kita harus seperti embun pagi. Menyejukkan alam, menyegarkan lingkungan, dan juga lembut, dan juga antusias untuk senantiasa memberikan kesejukan kepada alam.

Mentalitas negarawan, mental inilah yang harus kita bangun ketika hari ini kita memimpikan satu tahapan dakwah yang meluas, menyesuaikan dengan mihwar atau tahapan yang ada, inilah konsekuensi yang harus dilakukan. Ya, tentang kedewasaan sikap kita, tentang mumpuninya kapasitas yang kita miliki dalam ranah kontribusi, tentang kearifan kita dalam berpijak dan menentukan segala keputusan, tentang sepuluh rukun yang seharusnya kita tanamkan dalam setiap aktivitas kita.

Tsiqah. Percaya saja. Bahwa bersama kesejukan embun tarbiyah adalah solusinya. Bersama kesejukan, lalu menikmati kelembutan belaian dan sentuhan embun tarbiyah adalah bagian dari solusi, untuk menyegarkan kembali lingkungan kita, menyejukkan kembali negara ini, memberikan nuansa surgawi kepada lingkungan kita, kepada masyarakat kita, kepada alam ini.

Tsiqah saja. Karena visi embun yang begitu agung, yaitu menyegarkan dedaunan yang mulai layu, menyejukkan pagi yang habis pekat, dan memberikan harmoni bagi alam. Begitu juga visi tarbiyah ini, yang ingin menyegarkan dengan harum wewangian surgawi, menyejukkan alam dengan kesturi-kesturi nirwana. Ah, indahnya. Nikmatnya. Bersama kesejukan embun tarbiyah, engkau akan diajari, bagaimana seharusnya kita bersikap, bagaimana seharusnya kita menjadi dewasa, bagaimana seharusnya kita menjadi kebermanfaatan sepenuhnya bagi negara ini, bagi umat ini. Dan yakinlah, bersama kesejukan embun tarbiyah, engkau akan menjadi harmoni. Yakinlah. Dan tetaplah bersama sejuknya embun tarbiyah.

Langkah Cinta untuk Indonesia (Mengenang Pejuang Sejati Ustadzah Hj. Yoyoh Yusroh, SPdi.)

Cover Buku "Langkah Cinta untuk Indonesia"
Judul buku : Langkah Cinta untuk Indonesia (Mengenang Pejuang Sejati Ustadzah Hj. Yoyoh Yusroh, SPdi.)
Penulis : Zirlyfera Jamil dkk (Tim FP)
Penerbit : Robbani Press
Cetakan : I, Agustus 2011
Halaman : 248
Ukuran : 210 x 145 mm

dakwatuna.com - Saat kini marak perdebatan di kancah wanita tanah air tentang gugatan atas keterkungkungan peran wanita, buku ini menjawabnya. Buku yang sebenarnya telah cukup lama berdiri di rak ini baru kini saya selami. Langkah cinta Yoyoh Yusroh untuk Indonesia.

Mendengar nama Ustadzah Yoyoh Yusroh pun baru kali pertama saat kabar kepulangan beliau ke rahmatullah tengah ramai. Yoyoh Yusroh, wanita dengan 13 putra-putri ini tidak banyak ba bi bu untuk mematahkan pandangan bahwa wanita tak memiliki kesempatan untuk berkiprah. Dengan amanahnya di Komisi I DPR RI, beliau semakin menguatkan menjadi tokoh wanita yang layak menjadi teladan.

Lembar demi lembar buku ini saya baca ada saja yang sebabkan air mata mengalir. Seluruh testimoni orang dalam buku ini sepakat pada satu pendapat. Ustadzah Yoyoh adalah sosok wanita (muslimah) luar biasa.
Saya terkesan dengan testimoni Ketua Fraksi PKS DPR RI, Mustafa Kamal. Dalam awalan penuturannya tulis beliau, “Ibunda Yoyoh Yusroh adalah manusia biasa, perempuan biasa. Sehari-hari nampak seperti ibu rumah tangga biasa. Beliau tampil berbicara dengan gaya yang biasa-biasa saja. Keseharian dan penampilannya pun biasa-biasa saja, penuh keserbabiasaan. Namun, yang luar biasa adalah bahwa dengan keserbabiasaannya tersebut beliau mampu menata dirinya menjadi luar biasa. Maka beliau tunduk kepada Rabbnya, ikhlas pada agamanya, taat pada suaminya, percaya pada pemimpinnya, dan setia kepada sahabat-sahabatnya.”

Ya. Sadar akan kesederhanaan diri sebagai hamba adalah titik tolak yang menjadi suluh kekuatan kita sebagai muslim. Buku ini bukan dimaksudkan mengkultuskan sosok seorang Yoyoh Yusroh. Buku ini tampil menjadi referensi alternatif di saat negeri ini kering akan sosok teladan seorang wanita.

Berkiprah di dunia internasional maupun urusan dalam negeri, tidak membuat ibu yang wafat di tahun 2011 lalu ini menanggalkan prioritasnya dalam keluarga. Prestasi anak-anaknya tidak perlu diragukan. Bahkan, diakui oleh salah seorang sahabat Bu Yoyoh, Ustadzah Wirianingsih, waktu paling istimewa bagi Bu Yoyoh adalah saat berada di tengah keluarganya. Yakni saat beliau menggorengkan pisang untuk anak-anaknya yang selalu ludes sebelum pisang tertata di piring.

Kekuatan, kelembutan, ketegasan, cinta, dan semangat berkarya adalah keteladanan terbaik yang beliau tinggalkan untuk negeri. Tidak hanya untuk Indonesia bahkan. Tapi juga untuk umat Islam di penjuru dunia. Kekuatan amalan yaumiah beliau adalah prasyarat yang urung beliau lupakan. Kebiasaannya mengkhatamkan minimal 2 juz tilawah per hari, hafalan Quran, qiyamul lail yang tak pernah absen, Dhuha, shaum Daud, adalah back up terbaik dalam terjun ke dunia dakwah.

Beliau buktikan pada Muslim di tanah air, khususnya wanita, bahwa politik adalah jua ranah yang mesti kita (muslimah) garap. “Memisahkan perempuan dari politik sama dengan memisahkan masyarakat dari lingkungannya.” Ungkap Bu Yoyoh semasa hidupnya.

Aktivitas publik dan domestik (kerumahtanggaan) adalah dua hal yang nyatanya mampu dijalankan secara apik dan seimbang oleh beliau. Yang menjadi PR untuk kita muslimah adalah, mampukah kita meneladani atau bahkan berjuang lebih dari beliau?

Karena dari rahim dan tangan wanitalah tercipta peradaban. Maka menjadikan wanita di negeri ini cerdas intelektual, sosial, dan ruhiyah (reliji) adalah kerja kita bersama.
“Wahai Saudariku, kita telah banyak menikmati hidup ini. Telah berapa tahun waktu yang kita lewati. Badan yang sehat telah kita nikmati. Rezeki yang cukup telah kita rasakan. Ilmu yang memadai telah tersimpan dan banyak lagi yang seharusnya kita ungkapkan sebagai wujud syukur kita kepada kekasih dambaan. Sekarang, saatnya kita berbuat. Untuk memperkuat barisan ummat. Menepis semua penghujat, tampil ke medan juang sebagai penyelamat.” (Yoyoh Yusroh)
Untukmu muslimah pencipta peradaban Islami…

Kultwit Ust. Moh. Fauzil Adhim Ttg Dakwah di Pedalaman


 
1. Kalau pagi ini engkau bisa BAB di WC, bersyukurlah. Di pedalaman, masih ada
da'i kita yang harus menggali tanah untuk sekedar buang air.

2. Di sejumlah titik di tengah hutan, terdapat da'i yang berdakwah sendirian,
mengajari para muallaf, meninggalkan hiruk-pikuk kota.

3. Ada juga yg tinggal di masjid yg sunyi tanpa fasilitas MCK. Jika
sewaktu-waktu perlu MCK, mereka harus berjalan kaki berkilo-kilometer.

4. Seseorang mengantarkan uang kpd satu da'i pedalaman itu, tapi ia menolak.
Dakwah di kota lebih membutuhkan uang. Beri kami do'a yg tulus.

5. Jika mau bantu, berikan saja sarana komunikasi. Untuk menelpon, mereka harus
berjalan jauh ke atas gunung agar memperoleh sinyal GSM.

6. Atau berikan alat yang dapat menghasilkan listrik yang mencukupi untuk
menghidupkan komputer, charge HP dan syukur bisa untuk yang lain.

7. Apalagi yang diperlukan? Seorang sarjana S-1 ilmu agama yang bersedia menjadi
istri dan siap berjuang di tengah hutan, sebab untuk >>

8. >> mengajarkan agama Islam di sekolah yang ada di sana bagi anak kaum
muslimin, harus guru agama yang memenuhi syarat menjadi PNS.

9. Sampai kapan berdakwah di sana? Sampai beranak-cucu, atau sampai habis umur
ini, atau sampai ada tempat yang lebih memerlukan dakwah.

10. Mereka gigih berdakwah bersebab rasa takutnya kalau sampai ada orang-orang
yang di sana dalam keadaan belum pernah mendengar ttg Islam.

11. Mereka brdakwah --bukan skedar jadi pembicara-- di pedalaman bukan krn tak
mampu brwirausaha di kota, tapi krn ingin jadi asbab hidayah.

12. Jika pun brmaksud bawakan bagi mereka logistik, bawakan saja ikan kaleng,
mie instant sekedar sbg selingan makan rusa & binatang buruan.

13. Jangan bayangkan santapan yang enak. Berbagai binatang buruan itu mereka
makan ala kadarnya. Bersyukur jika bertabur garam & bumbu.

14. Maka kehadiran seorang istri amatlah berharga. Selain sebagai teman
berjuang, juga untuk menjadikan perjuangan dakwah lebih berwarna.

15. Kehadiran istri dapat menjadikan binatang buruan tak hanya direbus,
dipanggang di atas batu atau dibakar langsung, tapi dibumbui.

16. Bahkan istri yang tak dapat memasak pun dapat menegakkan punggung mereka
untuk tetap gigih berdakwah asalkan siap berjuang di kesunyian.

17. Mereka bukanlah orang-orang lemah seperti saya. Mereka meninggalkan
kemudahan kota secara sengaja demi meraih surga-Nya.

18. Salah seorang dari mereka, yang masing-masing tinggal sangat berjauhan di
wilayah dakwah berbeda, amat tegap badannya, gagah, tampan, >>

19. >> berkulit amat putih dan cerdas. Tapi bukan itu yang membuat saya merasa
malu. Kesungguhannya untuk mengantar hidayah yg bikin haru.

20. Salah seorang da'i brkata, "Kalau sampai ada orang yg mati dalam keadaan
belum pernah mendengar ttg Islam, sementara kita ada sini, >>

21. >> boleh jadi kita yang ikut memiliki saham dosa atas kekafiran mereka.
Maka, apa jawab kita nanti kalau bukan berusaha keras sekarang?"

22. "Kami tak perlu kehadiran Ustadz terkenal yg tidak bisa melayani dirinya
sendiri. Yg kami perlukan, orang yg siap mengotori tangannya >>

23. >> untuk mengusap mereka dan mengikhlaskan badannya untuk berpelukan dengan
dekil tubuh mereka yang gembira menyambut kita."

24. Jika mau sungguh-sungguh berdakwah, jangan khawatir kekurangan makan di
sini. Pertolongan Allah tetap berlaku di belahan bumi manapun.

25. Orang-orang di pedalaman tak memerlukan curriculum vitae yang panjang dan
serangkaian prestasi yang bikin tercengang.

26. Mereka hanya memerlukan orang yg tulus menyapa; yg menyediakan airmatanya
untuk mendo'akan mereka. Bukan menangisi terbatasnya fasilitas

27. Sempat saya diajak ke sebuah tempat dan ditunjukkan, "Dubes Vatikan sudah
dua kali ke sini." ╪л┘Е ┘Д╪к╪│╪г┘Д┘Ж ┘К┘И┘Е╪ж╪░ ╪╣┘Ж ╪з┘Д┘Ж╪╣┘К┘Е

28. "Kemudian sungguh kelak kamu akan ditanyai pada hari itu (tentang nikmat
yang Allah berikan kepadamu)." QS. At-Takaatsur: 8

29. Merupakan kehormatan jika seorang ustadz besar brkenan datang menyapa
mereka. Jangan khawatir, mereka akan mnyambut dg penuh kehangatan.

30. Mereka dg senang hati memberikan apa yg mereka punya, jika kita tidak malu
menerimanya. Bahkan gaharu pun mereka tak berat melepaskan.

31. Semoga di tahun ini, tak lama, sy dapat mendatangi sebagian pos dakwah
mereka. Semoga Allah mampukan sy membawakan sesuatu yg berharga.

32. Bersyukur saya sempat pula bertemu seorang da'i yang tinggal berdua dengan
isterinya di tengah hutan. Saya tertegun.

33. Saya termangu melihat wajahnya yang menyiratkan sbg pribadi bahagia &
tenang. Bukan sekedar kebetulan sedang bahagia.

34. Betapa ringan ia mnghadapi dunia, meski HPnya sudah tak bertutup di bagian
belakang. Pengen bawakan ia HP tahan banting, awet baterai.

35. Masih amat banyak hal yang patut direnungi. Tapi izinkan saya menata hati.
Betapa kecilnya diri ini di hadapan mereka.

36. Nasehati saya, nasehati saya & do'akan. Teringat sebuah hadis, tapi saya
belum menemukan penjelasan ttg status hadis ini (bisa bantu?).

37. тАЬTdk akan trjadi kiamat sbelum muncul golongan yg mncari makan melalui
lidah-lidah mrk, sprti sapi yg makan dg lidah-lidahnya.тАЭ HR Ahmad

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons | Re-Design by PKS Piyungan