PKS NEWS UPDATE:
« »
Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Juni 2012

Belajar dari Umar : Mengerti Tanpa Henti

Belajar dari Umar : Mengerti Tanpa Henti

Posted by pak cah on April 2, 2012
Oleh : Cahyadi Takariawan
gambar : Google
Umar bin Khattab dilahirkan 12 tahun setelah kelahiran Rasulullah saw. Ayahnya bernama Khattab dan ibunya bernama Khatmah. Perawakannya tinggi besar dan tegap dengan otot-otot yang menonjol pada kaki dan tangannya, berjenggot lebat, berwajah tampan, dengan warna kulit yang coklat kemerah-merahan. Umar dibesarkan di lingkungan Bani Adi, salah satu kabilah Quraisy. Nasabnya  adalah  Umar  bin  Khattab  bin Nufail bin Abdul Uzza bin  Riyah  bin  Abdullah  bin  Qarth bin Razah bin Adiy bin  Ka’ab binLu’ay bin Ghalib.
Umar adalah sosok yang tegas, pemberani, visioner, namun sekaligus sederhana,. bijaksana dan lembut. Ketika Umar menjadi khalifah kedua setelah wafatnya Abubakar Ash Shidiq, wilayah kekhalifahan berkembang sangat luas. Itu karena kerja keras yang dilakukan untuk menyebarkan nilai Islam sebagai rahmat bagi semesta alam. Ia berhasil membawa Islam ke Persia, Mesir, Syam, Irak, Burqah, Tripoli bagian barat, Azerbaijan, Jurjan, Basrah, Kufah dan Kairo.
Khalifah yang Sederhana
Suatu hari, seorang utusan Romawi tengah mencari Khalifah Umar bin Khattab. Setelah beberapa saat tak menemukan istana Khalifah, ia bertanya kepada orang yang dijumpainya. “Dimanakah istana Khalifah Umar?” Orang itu menjawab, “Ia tidak punya istana.” Utusan Romawi bertanya lagi, “Lalu, dimana benteng Khalifah Umar?” Orang itu menjawab, “Tidak ada.”
Orang itu menunjukkan rumah Sang Khalifah yang terlihat seperti rumah orang biasa. Segera didatanginya rumah tersebut dan utusan Romawi menanyakan keberadaan Amirul Mukminin. Alangkah terkejutnya saat mendengar jawaban dari keluarga Umar: “Itu Umar di sana, sedang tertidur di bawah pohon.”
Karakter yang sangat pantas diteladani dari Umar adalah kesederhanaan hidup, dan kebersahajaan dalam penampilan. Betapa mahal kesederhanaan pada zaman kita sekarang. Umar adalah sosok yang sangat sederhana dan memperhatikan kepentingan rakyatnya. Ia istirahat siang sejenak di depan rumahnya, di bawah sebuah pohon, tanpa pengawal. Agar selalu bisa dilihat oleh rakyatnya bahwa ia ada di rumah, sehingga bisa ditemui untuk berbagai urusan mereka.
Suatu saat Umar bin Khathab pernah berkata, “Sesungguhnya seorang pemimpin itu diangkat dari antara kalian bukan dari bangsa lain. Pemimpin itu harus berbuat untuk kepentingan kalian, bukan untuk kepentingan dirinya, golongannya, dan bukan untuk menindas kaum lemah. Demi Allah, apabila ada di antara pemimpin dari kamu sekalian menindas yang lemah, maka kepada orang yang ditindas itu diberikan haknya untuk membalas pemimpin itu. Begitu pula jika seorang pemimpin di antara kamu sekalian menghina seseorang di hadapan umum, maka kepada orang itu harus diberikan haknya untuk membalas hal yang setimpal”.
Umar selalu berusaha untuk mengerti dan memenuhi kebutuhan rakyatnya. Qatadah pernah berkata, ”Pada suatu hari Umar bin Khattab memakai jubah yang terbuat dari bulu domba yang sebagiannnya dipenuhi dengan tambalan dari kulit, padahal waktu itu beliau adalah seorang khalifah. Sambil memikul jagung ia berjalan mendatangi pasar untuk menjamu orang-orang.”
Abdullah bin Umar, putera sang Khalifah menceritakan bahwa Umar bin Khattab pernah berkata : “Seandainya ada anak kambing yang mati di tepian sungai Eufrat, maka umar merasa takut diminta pertanggung jawaban oleh Allah SWT.”
Umar adalah sosok pemimpin yang mendahulukan kepentingan rakyat, maka ia buktikan bahwa ia adalah orang yang lebih dahulu lapar dan yang paling terakhir kenyang, Umar pernah berjanji tidak akan makan minyak samin dan daging hingga seluruh rakyat kenyang memakannya.
gambar : Google
Habish yang Membuat Murka
Suatu ketika Utbah bin Farqad, Gubernur Azerbaijan, disuguhi makanan oleh rakyatnya. Dengan senang hati gubernur menerimanya.
“Apa nama makanan ini?”.  tanya Gubernur.
“Namanya Habish, terbuat dari minyak samin dan kurma”, jawab salah seorang dari mereka.
Utbah segera mencicipi makanan itu. “Subhanallah, betapa manis dan enak makanan ini. Jika makanan ini kita kirim kepada Amirul Mukminin Umar bin Khattab di Madinah dia akan senang”,, ujar Utbah.
Segera ia memerintahkan rakyatnya untuk berangkat ke Madinah dengan membawa Habish bagi Khalifah Umar. Khalifah segera membuka dan mencicipinya.
“Makanan apa ini?” tanya Umar.
“Makanan ini namanya Habish. Makanan paling lezat di Azerbaijan,” jawab salah seorang utusan.
“Apakah seluruh rakyat Azerbaijan bia menikmati makanan ini?”, tanya Umar lagi.
“Oh, tidak semua rakyat bisa menikmatinya”, jawab utusan itu.
Wajah Khalifah langsung memerah karena marah. Ia segera memerintahkan kedua utusan itu untuk membawa kembali habish ke negrinya. Kepada Gubernur ia menulis surat: “Makanan semanis dan selezat ini tidak dibuat dari uang ayah dan ibumu. Kenyangkan dulu perut rakyatmu dengan makanan ini sebelum engkau mengenyangkan perutmu”.
Itulah Khalifah Umar bin Khathab, yang selalu mengerti kondisi rakyatnya. Ia tidak mau menyakiti hati rakyat yang dipimpinnya. Ia sangat menjaga dan merawat perasaan rakyat. Betapa rindu kita dengan sosok yang sangat kuat visi kenegaraannya, namun sekaligus memberikan keteladanan dalam kesederhanaan bagi masyarakat.

http://cahyadi-takariawan.web.id/?p=2276

Bahaya Kantong Plastik


Ketika Halaqah Tak Lagi Dirindui

dakwatuna.com - Suara-suara mendengung bak lebah itu menumbuhkan suasana syahdu dan khusyuk. Lantunan kalam Ilahi yang meluncur dari lisan-lisan shalih itu bak mantera penguat jiwa. Muraja’ah hafalan surat-surat dalam Al-Qur’an serta talaqqi madahpenuh dengan semangat dan optimisme yang tinggi. Pertemuan pekanan ini ibarat ruh bagi jiwa, bak air untuk kehidupan.

Majelis pekanan yang lazim dikenal sebagai halaqah, tak bisa dipungkiri adalah nadi bagi sebuah harakah Islamiyah. Di dalamnya, para kader dakwah berinteraksi secara intim dan intens di bawah bimbingan seorang Murabbi. Pertemuan-pertemuan pekanan semacam ini haruslah dinamis dan produktif agar harakah Islamiyah dapat terus menggulirkan amal-amal dakwah demi kejayaan Islam. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa tak selalu halaqah ini berjalan mulus. Ada kalanya rutinitas pekanan ini didera kelesuan. Karena bagaimanapun pribadi-pribadi di dalamnya adalah manusia, bukan kumpulan para malaikat, yang memiliki iman yang fluktuatif.

Mengapa sebuah halaqah tak lagi nyaman didatangi?

Pertama, disorientasi tujuan.
Motivasi orang mengikuti kajian rutin seperti halaqah sangat beragam. Ada yang karena ingin mendalami ilmu agama. Ada yang tertarik oleh ajakan kawan. Ada yang bersungguh-sungguh ingin menegakkan agama Allah. Pun tak sedikit yang semangat berhalaqah agar naik jenjang keanggotaan dalam jamaah. Nah, ketika dirasa peluang naik tingkat sangat kecil, bukan tidak mungkin semangat yang sebelumnya menyala-nyala bisa langsung padam. Disorientasi tujuan ini berkaitan erat dengan ruhiyah seseorang sehingga ketika ada yang mengalami hal ini, maka pasokan ruhiyahnya harus ditingkatkan. Bisikan-bisikan hawa nafsu harus ditepis agar keikhlasan tetap terjaga. Komitmen bergabung dalam jamaah dakwah harus dikuatkan kembali.

Kedua, pelaksanaan halaqah yang membosankan.
Bagaimanapun, mengelola halaqah ada seninya. Meskipun kurikulum sudah ada, silabus sudah lengkap dan tujuan masing-masing materi sudah jelas, tetap saja diperlukan strategi agar halaqah berjalan dinamis dan penuh kesan. Halaqah yang melibatkan semua komponen dan bergerak menuju arah yang sama tentulah halaqah yang sangat dinanti-nantikan kehadirannya. Oleh karenanya setiap individu di dalam halaqah memiliki peranan yang sangat penting demi mewujudkan halaqah yang dirindui.

Ketiga, hubungan Murabbi dengan mutarabbi.
Murabbi sebagai pemimpin dan pengendali halaqah memegang peranan yang paling penting. Sosoknya haruslah mampu diterima semua anggota kelompok. Tidak ada penolakan terhadap dirinya. Imam Hasan Al Banna mengibaratkan figur ini sebagai syaikh dalam hal kepakaran ilmu, orang tua dalam hal kasih sayang, guru dalam hal pengajaran, kakak dalam hal teladan dan pemimpin untuk urusan ketaatan.
Pernah ada seorang mutarabbi yang menyampaikan kepada Murabbinya, “Ustadz, saya usul dalam halaqah kita ketika adzan Isya’ berkumandang marilah kita segera shalat berjamaah sebagaimana ketika kita shalat Maghrib.” Tak dinyana, jawaban Sang Murabbi begini.”Akhi, saya ketika halaqah dengan para doktor-doktor syariah biasa saja gak shalat Isya’ jamaah waktu halaqah. Shalatnya nanti di rumah saja biar waktu halaqah nggak terlalu lama. Saya rasa, yang perlu diperbaiki itu komitmen Antum. Antum suka datang telat, waktu halaqah tidur, kurang ihtiram, gak setor hafalan….”

Menjadi pemimpin, tak boleh alergi kritik sebagaimana menjadi mutarabbi pun tak boleh alergi nasihat dan teguran. Ketika jawaban tersebut disampaikan, maka si Al akh pun balik membalas, “Ustadz, saya kan usul. Usul itu bisa diterima atau ditolak. Kalo diterima, Alhamdulillah kalo nggak ya nggak apa-apa. Jangan malah membeberkan aib-aib saya…”

Ketika hubungan Murabbi-Mutarabbi seperti ini –saling menyerang- pastilah halaqah bukan lagi momen yang dirindukan. Ia akan menjadi waktu yang tidak diharapkan, atau dijalani dengan terpaksa. Dihadiri tanpa semangat. Oleh karenanya harus ada hubungan yang mesra antara Murabbi dengan mutarabbi-nya. Jika hubungan ini sudah tercipta, niscaya halaqah akan menjadi momen yang dinanti-nanti.

Keempat, melemahnya militansi.
Bisa jadi, masa-masa awal mengikuti halaqah adalah momen-momen yang tak terlupakan. Berkobar-kobarnya semangat dan keinginan meninggikan agama Allah. Setelah itu akan dirasakan kestabilan dan keadaan yang biasa-biasa saja. Kesibukan dunia, rutinitas kerja, tuntutan-tuntutan di luar dakwah dan kompleksitas dari ketiga faktor di atas akan melemahkan militansi. Pada kondisi seperti ini, halaqah bisa berubah menjadi sekedar rutinitas yang menjemukan. Hanya akan menjadi majelis ‘setor muka’. Jika ini yang terjadi, maka wajarlah jika kelak lambat laun halaqah tak akan lagi dirindui. Oleh karenanya, bangkitlah! Semangat itu tak dicari, tapi ditumbuhkan. Kemudian dipupuk dan dijaga dari hama dan virus yang akan melemahkannya. Militansi tak kenal musim. Ia harus dijaga senantiasa hidup dan menjadi api perjuangan.

Wahai Saudaraku, mari tumbuhkan kerinduan akan hari itu. Hari pertemuan kita dengan saudara yang diikat karena Allah. Hari yang di dalamnya penuh keberkahan dan doa para malaikat. Satu hari dalam setiap minggu yang kita dedikasikan untuk menghasilkan amal-amal dakwah dalam bingkai harakah Islamiyah…
 
Qonitatillah, MSc.
Ibu rumah tangga dengan empat orang anak. Menyelesaikan studi master dalam bidang Solar Cell di jurusan Kimia, Fakulti Sains, Universiti Teknologi Malaysia pada tahun 2010. Aktif di Ikatan Keluarga Muslim Indonesia (IKMI) Johor, sebuah organisasi pemberdayaan TKI di Malaysia. Pengurus PIP PKS Johor. Tinggal di Johor Bahru, Malaysia.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/09/14363/ketika-halaqah-tak-lagi-dirindui/#ixzz1x8fPCbZD

Jumat, 01 Juni 2012

Tarbiyah dan Pemenangan Pemilu

dakwatuna.com - Konsekuensi keislaman kita mengharuskan kita tunduk pada ajaran-ajaran Islam yang syumul, menyeluruh dan menyentuh segala lini kehidupan, baik dalam kehidupan kita sebagai satu individu muslim maupun kehidupan kita sebagai makhluk sosial dalam bingkai masyarakat.

Masing-masing menuntut warna yang berbeda di atas warna-warna lainnya. Allah SWT mengistilahkannya dengan istilah Shibgatullah atau celupan Allah.

Istilah celupan sudah sangat cukup mengetahui makna yang terkandung dalam kata tersebut. Sering minum teh celup? apa jadinya jika teh celup dimasukkan ke dalam air panas dalam gelas, air yang ada dalam gelas, serentak terwarnai. Artinya bahwa ketika kita memilih Islam sebagai jalan hidup, maka seluruh sisi kehidupan kita pun mesti ikut terwarnai dengan warna pilihan Allah, dengan celupan Allah. Baik dalam kehidupan kita sebagai individu, maupun dalam kehidupan kita sebagai bagian dari masyarakat.

Kewajiban individu kita sebagai hamba Allah adalah bagaimana kita mengabdi dan terus menjalin dan meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah, membina diri kita untuk terus menumbuhkan keimanan dalam diri, menghidupkan hati, meningkatkan pemahaman keislaman kita, dan membina keluarga Islam.

Dan kewajiban sosial kita sebagai satu bagian dari masyarakat, adalah membawa warna-warna Islam tadi ke masyarakat luas, dan kitalah yang menjadi teladan dalam keislaman, merubah kebiasaan umum dengan warna Islam, melakukan langkah-langkah keshalihan sosial. Menciptakan masyarakat islami, membangun pemerintahan yang bersih, dan menjunjung nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.

Dan Tarbiyah telah menjadi tsawabit [bagian permanen] dalam dakwah sebagai alat utama untuk melakukan perubahan yang dicita-citakan dalam diri umat, sesuai dengan firman Allah Swt., “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah suatu kaum, hingga ia merubah apa yang ada dalam dirinya”. Dan narasi perubahan yang kita cita-citakan adalah perubahan yang mencakup dua hal, pertama adalah individu-individu yang bekerja dalam masy’ru Al-Islami (proyek peradaban), dan kedua adalah kaum muslimin secara umum dalam masyarakat.

Dan bahwa pencapaian tujuan tarbiyah dalam diri kader dakwah yang bekerja untuk menegakkan proyek peradaban, tuntutannya jauh lebih besar dibanding dengan kaum muslimin secara umum. Namun kita sepakat benang merah di antara keduanya, bahwa tujuan-tujuan tarbiyah tidak mungkin diwujudkan, kecuali melalui sistem tarbawi dan bukan melalui kegiatan-kegiatan umum seperti ceramah-ceramah, tulisan-tulisan, memberikan pelayanan, karena seluruh kegiatan-kegiatan ini tidak memiliki efek pengaruh yang kuat dan terus menerus, kecuali melalui system tarbawi, mari kita renungkan apa yang pernah dikatakan oleh tokoh pelopor pergerakan dari lembah sungai Nil, beliau mengatakan:
إن الخُطب والأقوال والمُكاتبات والدروس والمحاضرات وتشخيص الداء ووصف الدواء كل ذلك لا يُجدي وحده  لها نفعًا، ولا يصل
 بالداعين إلى هدف من الأهداف؛ ولكن للدعوات وسائل لابد من الأخذ بها والعمل
لوسائل العامة للدعوات لا تتغير ولا تتبدل ولا تعدو هذه الأمور الثلاثة:
     الإيمان العميق-
     التكوين الدقيق-
     العمل المتواصل-

“Sesungguhnya ceramah-ceramah, perpustakaan-perpustakaan, pengajian-pengajian, dan muhadharah, analisa penyakit dan menyebutkan nama obatnya, semua itu tidak banyak memberikan manfaat, dan tidak mengantarkan para penyeru perubahan sampai pada tujuan-tujuan yang dicitakan, akan tetapi dakwah itu memiliki tiga wasilah umum, yang tidak berubah-ubah, dan tidak berganti-ganti, tidak keluar dari tiga hal berikut:
  1. Keimanan yang dalam (Al-Iman Al-Amiq)
  2. Pembentukan yang jeli (At-Takwinul Ad-Daqiq)
  3. Amal yang berkesinambungan (Al-Amal Al-Mutawashil)

Mengenai tujuan dakwah yang ingin dicapai, dengan itu para kader dakwah bekerja untuk mewujudkannya, baik dalam diri mereka maupun dalam masyarakatnya, beliau mengatakan:
“Sesungguhnya tujuan dakwah, terfokus pada pembentukan generasi baru dari orang-orang mukmin dengan ajaran Islam yang shahih, dan generasi ini bekerja mewarnai umat dengan warna dan celupan Islam dalam segala sisi kehidupan mereka “Dan celupan Allah, maka siapakah yang lebih baik celupannya selain dari celupan Allah” [QS. Al-Baqarah: 138].

Dan wasilah untuk itu adalah merubah kebiasaan umum, dan membina anshar dakwah (pendukung dakwah) dengan ajaran Islam, hingga mereka menjadi teladan pada yang lainnya dalam memegang teguh ajaran Islam, perhatian pada ajaran Islam, dan berhukum dengan ajaran tersebut”.

Celupan Tarbiyah
Maka dari sini, jelas bagi kita bahwa seluruh pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan, harus terwarnai dan tercelup dengan celupan dan warna tarbiyah. Yang kita maksud dengan celupan tarbiyah adalah pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan itu – apa pun bentuk dan jenisnya – memiliki kontribusi positif dalam salah satu sisi kepribadian kita atau dalam seluruh sisi kepribadian kita yang empat, yaitu [sisi ma’rifah atau pengetahuan, sisi Imaniyah atau keimanan, sisi nafsiyah atau kejiwaan, dan sisi sulukiyah atau perilaku dan atau attitude].

Satu contoh misalnya, pekerjaan-pekerjaan sosial, bisa jadi pekerjaan-pekerjaan, sifatnya sosial semata, yang hanya bertujuan untuk mengurangi beban penderitaan orang lain tanpa melihat sisi lain, namun bisa juga pekerjaan sosial ini menjadi wasilah menanamkan pengaruh positif dan perubahan yang berkesinambungan dalam diri mereka.

Saat ini, kita baru saja memutuskan untuk berjuang dalam gelanggang politik, mengusung salah satu kader dakwah untuk berjuang melalui jalur konstitusi, ya benar kita terjun untuk menang dan bukan untuk kalah, hari-hari ke depan adalah hari-hari yang penuh perjuangan dengan perhelatan dan aktivitas politik dalam pemilu. Masa-masa dalam pemilu ini bisa jadi hanya mengumpulkan jumlah suara sebanyak-banyaknya, namun bisa juga menjadi wasilah tarbiyah yang memberikan pengaruh positif bagi diri kader, yang melahirkan perubahan positif dalam diri kader, walau hanya satu sisi kecil dalam kepribadian kader, agar kader setelah musim pemilu ini, menjadi kader yang lebih sensitive dan lebih ijaby, kader yang lebih banyak memiliki pengaruh di masyarakat, menggandeng tangan masyarakat untuk terus meniti tangga keislaman  dan berkomitmen dengan Islam yang shahih dengan bertahap.

Mewarnai Pemilu dengan Celupan Tarbiyah
Ada banyak cara dan faktor agar aktivitas-aktivitas dalam pemilu ini, memberikan kontribusi – dengan izin Allah SWT – secara tarbiyah, di antaranya:

Pertama adalah kekuatan hubungan dengan Allah Azza wa Jalla (Quwwatu Shilah billah), dan meningkatkan mutu keimanan yang hakiki dalam hati, yang dengannya seorang kader diharapkan berada dalam kondisi jernih, kader memiliki kedisiplinan syar’i [Indhibath Syar’i], lebih positif [ijaby].

Perlu kita sadari bahwa factor penting, kita dapat mewujudkan cita-cita tarbiyah dan kemenangan dakwah adalah factor kekuatan ini, faktor Quwwatu shilah billah, kekuatan hubungan dengan Allah Swt., maka kadar kekuatan hubungan kita dengan Allah Swt., itulah yang mendatangkan pertolongan, dukungan, bantuan, dan perlindungan dari Allah Azza wa Jalla’, Allah SWT berfirman:  “Dan Dia-lah yang melindungi orang-orang shalih” [QS. Al-A’raf: 196], “Allah Pelindung orang-orang yang beriman” [QS. Al-Baqarah: 256].

Sujud di pertengahan malam, disertai linangan air mata, itulah yang meruntuhkan benteng yang kokoh dan mengguncang arsy dengan pertolongan Allah Swt.

Maka tidak benar, jika ada seorang kader yang beralasan dengan kesibukannya dalam aktivitas politik dalam masa-masa pemilu,  lantas menyebabkan ia kurang disiplin dan meremehkan pelaksanaan shalat berjamaah di masjid, atau melupakan wirid-wirid hariannya.

Ketahuilah wahai saudaraku, tiada kebaikan dalam amal yang menyepelekan shalat.

Jika seandainya mobilitas yang besar, bisa dijadikan alasan untuk meremehkan amalan-amalan keimanan, tentulah generasi awal umat ini, tak perlu lagi melakukan shalat-shalat malam dalam peperangan yang mereka ikuti. Renungkanlah surat yang ditulis oleh Pemimpin pasukan kaum Muslimin, Saad bin Waqqash saat akan menaklukkan Qadisiyah – kepada Umar bin Al-Khattab – yang memberikan kabar gembira akan kemenangan pasukan kaum muslimin, dalam suratnya, Saad bin Waqqash menceritakan kondisi kaum muslimin: “Mereka – pasukan kaum muslimin – membaca Al-Qur’an dan jika malam tiba, mereka seperti gema lebah dan di siang hari mereka seperti singa yang tidak ada yang menyerupainya”.

Contoh pemimpin dakwah saat ini, pribadi penulis sendiri pernah melihat bagaimana kualitas ibadah salah satu tokoh revolusi Mesir dan pemimpin Ikhwanul Muslimin, Dr. Isham Aryan. Kejadiannya terjadi di masjid Rab’ah Al-Adewah, Nasr City Mesir, tempat seminar dilaksanakan. Di mana pasca revolusi Mesir, Ikhwan banyak melakukan kegiatan-kegiatan massif, kembali memperkenalkan dakwah Ikhwan, karena sebelumnya Ikhwanul Muslimin diperangi oleh rezim berkuasa, dan sejarahnya banyak distorsi.

Dalam jadwal, acara dimulai setelah shalat Isya, penulis bersama salah seorang teman lebih dulu datang, sebelum Maghrib dan shalat di masjid Rab’ah Al-Adaweh. Tepat jam 19.00 waktu Mesir, Dr. Isham Aryan datang dan langsung melakukan shalat sunah, para pemuda telah berjejer di belakang beliau, hendak bertanya. Ketika Dr. Isham Aryan telah selesai dari shalat sunnahnya. penulis dan teman dari sejak awal telah memperhatikan Dr. Isham hingga beliau shalat, terhitung dua rakaat shalat sunnah pertama dilaksanakan selama kurang lebih 15 menit, ketika beliau selesai dari dua rakaat tersebut, datanglah beberapa pemuda yang telah menunggu dari tadi, namun ternyata Dr. Isham kembali minta izin untuk shalat sunah lagi. Lagi-lagi shalat sunnahnya tak kalah lamanya dengan shalat sunah sebelumnya, hingga adzan Isya, dan baru selesai sesaat sebelum iqamat. Dan para pemuda tersebut, termasuk penulis, baru bisa bertanya ke beliau setelah shalat Isya.

Dalam pikiran saya waktu itu, Subhanallah, ini baru shalat sunnahnya di siang hari begitu lama (setengah jam lebih), bagaimana dengan Qiyam lailnya. Inilah mutu kualitas ibadah seorang pemimpin yang sukses memimpin revolusi Mesir.

Dan cukup kiranya bagi kita untuk menguatkan makna ini, yaitu taujih ilahi kepada Rasulullah Saw., dalam firmannya: “Maka jika kamu telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)” [8] “Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap”. [QS. As-Syarah: 7-8]. Atau jika kamu telah selesai dari menunaikan tugas-tugas dakwah, maka segeralah beribadah.

Mobilitas yang padat dalam pemilu, hanya bisa melahirkan efek pengaruh positif dan meningkatkan mutu keimanan, jika ditunaikan dengan hati yang hidup dan bukan dengan hati yang lalai, hati yang lalai menunaikan tugas-tugas di lapangan tanpa ruh, yang kemudian berefek pada hilangnya pengaruh pada amal tersebut, tidak menambah keimanan dan bahkan tidak sedikit dari kader, terseret pada penyakit futur, setelah sebelumnya sibuk dengan mobilitas pemilu. Oleh karena itu, Rasulullah memperingatkan kita akan bahaya ini, beliau bersabda: “Perumpamaan orang yang menerangi manusia dan melupakan dirinya sendiri seperti lilin”. [Shahih Al-Jami’ As-Shaghir].

Ini bukan berarti bahwa kita harus menyepelekan kerja-kerja dalam pemilu, namun yang dimaksud adalah agar kita memahami urgensitas berbekal dengan sesuatu yang dapat menjadikan kita bisa mengambil manfaat yang sebenarnya di musim-musim pemilu ini.

Pepatah Arab mengatakan yang artinya: “Jika tekadmu telah benar, maka engkau akan diberikan solusi”, artinya jika kita telah memahami pentingnya kekuatan hubungan dengan Allah [Quwwatu Shilah billah], dalam setiap waktu, lebih khusus dalam masa-masa saat ini, dan azam kita telah kokoh, telah lahir sakinah Qalbiyah dan yakin dengan pertolongan Allah akan datang, maka Allah akan memberikan petunjuk-Nya kepada kita bagaimana menyelaraskan antara wirid-wirid harian kita dengan tugas-tugas pemilu tersebut. Dan menjadikan kita tetap menjaga shalat jamaah di masjid, tetap menjaga wirid Al-Qur’an, qiyamulail, dzikir, dan di saat yang sama kita juga sukses melakukan peran kita dalam pemilu dengan sebaik-baiknya. “Dan barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya”. [QS. At-Talaq: 4]. Wallahu a’lam bishawab.
 

Bersama Kesejukan Embun Tarbiyah

dakwatuna.com – Embun itu, ketika engkau melihatnya, akan terlihat bening, ketika engkau merasakannya, akan terasa sejuk dan segar. Embun di pagi itu, selalu dan terus menyejukkan dedaunan dan rerumputan di pagi hari, dan membawa suasana segar, bagi siapa pun yang merasakannya. Embun itu, pada akhirnya akan selalu memberikan kesegaran bagi yang percaya akan manfaat embun.

Begitulah tarbiyah ini ada, ibarat embun, tarbiyah akan menyegarkan kembali hati-hati kita yang mulai kering, akan menyegarkan kembali jiwa-jiwa kita yang mulai melapuk, kering karena iman kita yang compang-camping, melapuk karena jiwa ini terlampau banyak dosa. Bagi yang yakin akan kekuatan dari tarbiyah, maka tarbiyah ibarat embun pagi yang akan menyegarkan dedaunan, sehingga dedaunan terlihat segar, siap menantang teriknya matahari,  siap untuk menatap dunia. Begitulah tarbiyah ini, dia akan selalu memberikan kesegaran kepada hati-hati yang kering, kepada jiwa-jiwa yang lapuk, sehingga hati kembali segar, seperti dedaunan pagi hari, sehingga jiwa kembali kokoh, setegar pepohonan pagi.

Embun pagi, ia mengajari kita, tentang harmoni, karena ia meneteskan kesegaran itu kesemuanya, bukan hanya daun, bukan hanya rumput, tetapi semuanya. Dedaunan, rerumputan, pepohonan pagi, serangga-serangga kecil, semuanya merasakan kesejukan embun pagi. Semuanya merasakan kesegarannya, semua merasakan kelembutan sentuhan tetesannya. Semua menikmatinya. Embun pagi. Tarbiyah. Seharusnya juga demikian. Tarbiyah mengajarkan, bukan hanya dia, bukan hanya mereka, bukan hanya ini, bukan hanya itu, tetapi semuanya. Tetapi menyeluruh. Karena tarbiyah ada untuk menjadi kebermanfaatan bagi semua, bukan hanya untuk saya, bukan hanya untuk dia, bukan hanya untuk mereka, bukan hanya untuk golongan A, bukan hanya untuk golongan C. Semuanya. Ya. Semuanya. Karena tarbiyah ada adalah untuk rahmat bagi seluruh alam.

Dan kalaupun tarbiyah hari ini sedang menuju kearah yang lebih luas, menegara, atau kalau bahasanya Pak Cah adalah menyongsong mihwar dauli, maka sekali lagi ketika kita pun harus bersikap menegara dengan membangun mentalitas negarawan, dan tentu kita harus belajar kepada embun pagi itu. Tentang ketulusannya, tentang kelembutannya meneteskan air kepada dedaunan, kepada rerumputan, kepada pepohonan, kepada alam. Sehingga alam pagi itu terlihat segar. Lalu kemudian kita terhangatkan oleh munculnya mentari pagi, dan tetap merasakan kesejukan embun pagi. Karena yang terpenting ketika kita akan menyongsong tahapan baru dalam tarbiyah, dalam dakwah, adalah tentang mentalitas kita. Mentalitas kita harus seperti embun pagi. Menyejukkan alam, menyegarkan lingkungan, dan juga lembut, dan juga antusias untuk senantiasa memberikan kesejukan kepada alam.

Mentalitas negarawan, mental inilah yang harus kita bangun ketika hari ini kita memimpikan satu tahapan dakwah yang meluas, menyesuaikan dengan mihwar atau tahapan yang ada, inilah konsekuensi yang harus dilakukan. Ya, tentang kedewasaan sikap kita, tentang mumpuninya kapasitas yang kita miliki dalam ranah kontribusi, tentang kearifan kita dalam berpijak dan menentukan segala keputusan, tentang sepuluh rukun yang seharusnya kita tanamkan dalam setiap aktivitas kita.

Tsiqah. Percaya saja. Bahwa bersama kesejukan embun tarbiyah adalah solusinya. Bersama kesejukan, lalu menikmati kelembutan belaian dan sentuhan embun tarbiyah adalah bagian dari solusi, untuk menyegarkan kembali lingkungan kita, menyejukkan kembali negara ini, memberikan nuansa surgawi kepada lingkungan kita, kepada masyarakat kita, kepada alam ini.

Tsiqah saja. Karena visi embun yang begitu agung, yaitu menyegarkan dedaunan yang mulai layu, menyejukkan pagi yang habis pekat, dan memberikan harmoni bagi alam. Begitu juga visi tarbiyah ini, yang ingin menyegarkan dengan harum wewangian surgawi, menyejukkan alam dengan kesturi-kesturi nirwana. Ah, indahnya. Nikmatnya. Bersama kesejukan embun tarbiyah, engkau akan diajari, bagaimana seharusnya kita bersikap, bagaimana seharusnya kita menjadi dewasa, bagaimana seharusnya kita menjadi kebermanfaatan sepenuhnya bagi negara ini, bagi umat ini. Dan yakinlah, bersama kesejukan embun tarbiyah, engkau akan menjadi harmoni. Yakinlah. Dan tetaplah bersama sejuknya embun tarbiyah.

Kamis, 31 Mei 2012

Ramadhan Bulan Perubahan

Perubahan setiap individu, umat dan bangsa merupkan salah satu tren yang berlaku pada saat itu, ia merupakan sunnatullah di dalam kehidupan ini, sebagaimana Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah suatu kaum hingga mereka mau merubah diri mereka sendiri”. (Ar-Ra’d:11)

Karena itu perubahan perilaku bukan sekedar angan-angan dan cita-cita belaka, namun merupakan kerja keras dan niat yang bersih serta perilaku yang lurus. Dan bulan Ramadhan yang mulia merupakan kesempatan yang sejati untuk melakukan perubahan, ia merupakan program nyata untuk melakukan perbaikan jiwa dan hati, dan titik awal untuk melakukan permbinaan umat:

Jangan katakan: dari mana saya memulai untuk mengawali taat kepada Allah
Jangan katakan: besok sajalah saya memulainya, karena boleh jadi ajal datang menjelang

Karena itu, Ramadhan merupakan bulan perubahan, untuk memperbaharui perpindahan ruh dan jasad sehingga mampu memperbaik kondisi dan merubahan internal kita. Dan perubahan yang positif tentang membutuhkan kita semua menuju kehendak yang matang, azimah yang kuat, dan usaha untuk melakukan perubahan. Allah SWT berfirman: “
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (Al-Baqarah:183)

Jika kita tidak merebut peluang di bulan perubahan ini, maka hilanglah dari kita kesempatan seumur hidup, kerana perubahan berarti senantiasa berada pada kebenaran, suatu revolusi (perubahan) atas kepalsuan, penipuan, ucapan sia-sia dan kedustaan. Sebagaimana sabda Rasulullah saw: 
من لم يدَعْ قولَ الزور والعملَ به، فليس لله حاجةٌ في أن يدع طعامه وشرابه
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatannya, maka Allah tidak butuh padanya dalam meninggalkan makan minumnya. ” (Bukhari),
 dan Nabi saw juga bersabda: 
ليس الصيامُ من الأكل والشراب، إنما الصيامُ من اللغو والرفث، فإن سابك أحد أو جهل عليك فقُل: إني صائم إني صائم
“Tidaklah puasa itu hanya menahan dari makan dan minum, tetapi puasa (menahan diri) dari ucapan sia-sia dan kotor. Jika ada seseorang yang menghardik kamu atau orang jahil menguji kamu katakanlah: “Saya sedang puasa, saya sedang puasa” (Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan disahihkan oleh Albani),

Namun semua ini bersumber hanya dari orang yang jujur ​​dengan Khaliqnya. Sehingga Allah akan membenarkan apa yang dilakukan hamba-Nya.

Di antara hasil perubahan terbesar pada bulan Ramadan: Penyerahan penuh kepada hukum (undang-undang) Allah, pelaksanaan perintah dan syariat-Nya sehingga menghasilkan sosok individu yang bertakwa kepada Allah dalam semua keadaan, karena itu bulan Ramadan yang merubah tabiat kehidupan secara keseluruhan sebagai penjamin untuk melakukan perubahan dalam kehidupan individu dan keluarga melalui program-programnya yang Rabbani dan Istimewa.

Dan diantara  perubahan pada bulan Ramadan: ketelitian, komitmen dan disiplin terhadap waktu, Anda dapat melihat seluruh umat duduk di hadapan hidangan berbuka saat menunggu waktu berbuka, dan umat seluruhnya mennahan dirinya dari makan, minum dan hubungan seks mulai waktu Imsak, sebagaimana Anda juga melihat seluruh umat berada dalam satu shaff saat menunaikan shalat, qiyam dan tarawih; ini tampak jelas jika dilihat dari atas atau jauh tentang pemandangan umat yang berada dalam suatu sistem, ketelitian dan susunan yang rapi.

Salah satu perubahan yang paling menakjubkan dalam bulan Ramadhan: waktu berbuka yang tidak boleh dilengahkan dan tidak ditangguhkan walaupun hanya satu menit. Rasulullah saw telah menjelaskan dalam sabdanya:
لا تزال أمتي بخير ما عجلوا الفطور وأخروا السحور
“Umatku akan terus dalam kebaikan selagi menyegerakan berbuka dan melambatkan makan sahur.”
Hal ini menegaskan akan hubungan yang erat antara Ramadan dan umat secara keseluruhannya.

Dan diantara perubahan yang paling lengkap pada bulan Ramadan: kita memelihara nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada kita dengan melakukan revolusi rakyat dan meraih hasilnya, bahwa cepatnya perubahan yang telah terjadi dan sedang berlaku merupakan tanda kekuasaan Allah bahwa pelaksanaan hukum-hukum alam pada sesuai dengan kadar kemampuan manusia. Inilah peluang yang telah tiba pada bulan Ramadan; untuk melaksanakan  revolusi bangsa Arab dan memperolehi kemerdekaan mereka. Perubahan secara aman  yang diinginkan oleh rakyat dan kesadarannya yang berkesinambungan terhadap revolusi dan terus memeliharanya walaupun harus masih menghadapi berbagai cobaan dan rintangan, Ini semua adalah hasil rancangan dan rekayasa Allah semata, yang telah mengejutkan Barat dan Timur, sepertimana telah mengejutkan para ahli politik dan ahli-ahli fikir dari kaum muslimin serta lain-lainnya.

Salah satu sikap perubahan yang paling kuat dalam bulan Ramadan: Memecahkan perasaan takut dan ancaman yang menghantui jiwa, yang menegaskan bahwa kekuatan yang sebenarnya kembali untuk meminta pertolongan dan perlindungan hanya kepada Allah. Sehingga dengan demikian para diktator dan rejim zalim tidak dapat menindas rakyat nya sewenang-wenang lagi dan tidak boleh menjatuhkan kepada kita pelbagai jenis ketidak-adilan dan kezaliman, sebagaimana yang dijanjikan Allah SWT: 
وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمْ الْوَارِثِينَ. وَنُمَكِّنَ لَهُمْ فِي الأَرْضِ وَنُرِي فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا مِنْهُمْ مَا كَانُوا يَحْذَرُونَ
“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi). Dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tentaranya apa yang se- lalu mereka khawatirkan dari mereka itu”. (Al-Qashash:5-6)

Akhirnya, Ramadan adalah bulan perubahan dan perbaikan untuk umat:

Salah satu syi’ar terbesar yang menjadi kontribusi penyatuan bangsa Arab dan umat Islam dengan berbagai negara, mazhab, bahasa dan adatnya; seluruh umat Islam di seluruh dunia sepakat bahwa puasa pada bulan Ramadan adalah kewajiban yang termaktub dalam rukun Islam.

Di bulan Ramadan juga ada semangat umat Islam mengeluarkan zakat harta; dimana hal tersebut dapat menjadi kontribusi dalam mengentaskan masalah pengangguran dan tindak kriminal secara bersamaan, mengentaskan kemiskinan dunia, dimana secara statistik menunjukkan bahwa terdapat lebih dari satu milyar seratus juta (1,100,000,000) orang miskin dan sangat miskin di dunia.

Di bulan Ramadan umat Islam mengeluarkan Zakat fitrah untuk orang yang memerlukan dan tidak memerlukan, untuk mewujudkan’takaful’ (gotong royong) yang sebenarnya. Dan inilah yang ditegaskan lebih dari 130 ayat dalam al-Quran, dan beratus-ratus hadith nabi saw dalam menggalakkan untuk menderma dan mengorbankan harta kepada orang yang memerlukan dan miskin baik yang muslim atau non muslim.

Ramadan juga menegaskan akan kemerdekaan umat yang memiliki ciri-ciri tertentu dalam menghadapi serangan globalisasi yang menyeru kepada pengrusakan nilai-nilai dan akhlak, karena umat Islam memiliki performa tersendiri, Allah SWT berfirman:
صِبْغَةَ اللَّهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ صِبْغَةً وَنَحْنُ لَهُ عَابِدُونَ
Shibghah Allah. dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? dan hanya kepada-Nya-lah Kami menyembah”. (Al-Baqarah: 138). 
(Shibghah artinya celupan. Shibghah Allah: celupan Allah yang berarti iman kepada Allah yang tidak disertai dengan kemusyrikan.pent).

Bulan Ramadan mengingatkan kita beberapa kemenangan umat dalam sejarahnya. Dua kemenangan yang paling besar dan fenomenal pada zaman Nabi saw adalah Perang Badar dan penaklukan Makkah yang terjadi dalam bulan Ramadhan, penaklukan Andalusia yang dipimpin oleh Tariq ibn Ziyad adalah terjadi pada tanggal 28 Ramadan tahun 92 Hijriah, dan Pertempuran Ain  Jalut, yang berhasil mengalahkan Mongol terjadi pada tanggal 15 Ramadan tahun 658 Hijriah. Begitu juga Allah telah memberikan kemenangan pada tanggal 10 Ramadan tahun 1383 H (6 Oktober 1973) atas Zionis perampas tanah dan tempat suci kita. Ini sesuai dengan janji Allah SWT yang telah berfirman: 
وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ
(Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman”. (Ar-Ruum: 47″

Oleh karena itu semua, marilah kita jadikan Ramadan sebagai bulan perubahan supaya kita lebih dekat dengan pertolongan Allah yang senantiasa diberikan kepada orang-orang yang dekat dengan-Nya. Allah berfirman:
وَيَقُولُونَ مَتَى هُوَ قُلْ عَسَى أَنْ يَكُونَ قَرِيبا
“Lalu mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mereka kepadamu dan berkata: “Kapan itu (akan terjadi)?” Katakanlah: “Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat”,(Al-Isra’: 51).

Selawat dan salam atas Nabi Muhammad saw, keluarga dan para sahabatnya.
Dan Allah adalah Maha Besar dan segala puji hanya milik Allah.

Cairo 20 sya’ban 1432 H/21 Juli 2011 M
DR. Muhammad Badi’

5 Sebab Dosa Kecil Menjadi Besar

-ilustrasi-


“Sesungguhnya,” kata Ibnu Qayyim Al Jauziyah, “Al-Qur’an, As-Sunnah, ijma’ sahabat dan tabiin telah menunjukkan bahwa dosa itu ada dua. Ada dosa besar, ada dosa kecil.”

Dosa kecil sebenarnya bisa diampuni Allah dengan mudah melalui istighfar dan ibadah mahdhah seperti shalat lima waktu dan puasa Ramadhan. Dosa kecil juga tidak mendapatkan ancaman khusus dan laknat Allah seperti halnya dosa besar. Namun, dosa kecil ternyata bisa berubah menjadi besar, jika terpenuhi salah satu dari 5 hal berikut ini.


5 sebab dosa kecil bisa berubah menjadi besar itu adalah :


1. Meremehkan dosa dan menganggapnya biasa saja

Ada orang-orang yang ketika melakukan dosa kecil ia menganggapnya sebagai hal yang biasa, terhapus dengan sendirinya atau tidak mempedulikannya. “Ah, ini mah dosa kecil.” “Biasa, yang beginian tak menyebabkan masuk neraka.” Dan komentar-komentar sejenisnya.

Rasulullah SAW bersabda, “Takutlah kalian dari tindakan meremehkan dosa.” (HR. Ahmad, dishahihkan Al Albani).


“Dosa kecil bisa menjadi besar,” fatwa Imam Auza’I, “jika seorang hamba menganggapnya kecil dan meremehkannya.”


2. Dikerjakan berulang-ulang (terus-menerus)

Sesuatu yang kecil, jika terus ditumpuk dan dikumpulkan, maka ia akan membesar. Sebuah peribahasa mengatakan, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Demikian pula dengan dosa kecil. Jika ia terus diulang, ia pun menjadi besar.

“Bukanlah dosa kecil jika dikerjakan terus menerus,” kata Ibnu Abbas, “dan bukanlah dosa besar jika diiringi taubat.”


Umumnya, pengulangan atau pembiasaan dosa itu berawal dari sikap meremehkan dosa. Lanjutan hadits pada poin 1 di atas menegaskan membesarnya dosa yang terus menerus dikerjakan.

“Sesungguhnya perumpamaan orang yang meremehkan dosa bagaikan sekelompok orang yang singgah di sebuah lembah. Ia datang membawa kayu dn terus menerus membawa kayu hingga (kayu itu menumpuk) mereka dapat memasak makanan mereka.” (HR. Ahmad, dishahihkan Al Albani).

3. Menyukai perbuatan dosa tersebut

Yaitu orang yang ketika dan setelah melakukan dosa timbul kepuasan dan kesenangan dalam jiwanya.

“Termasuk dosa besar adalah,” kata Imam Ghazali dalam
Ihya’, “merasa senang, gembira dan bangga dengan dosa.”

4. Memamerkan dan mendemonstrasikan dosa tersebut

Dewasa ini, jumlah orang yang melakukan hal keempat ini cenderung makin banyak. Bahkan bukan hanya dosa kecil, untuk dosa besar pun sebagian orang melakukannya secara terbuka sekaligus memamerkan dan mendemonstrasikannya. Misalnya dengan media video yang diupload di Youtube dan sebagainya. Selain menunjukkan peremehan terhadap dosa, poin keempat ini juga memicu orang lain melakukan dosa yang sama akibat contoh yang ia lakukan dan dengan demikian dosanya menjadi berlipat-lipat.

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa menyeru/mendakwahkan kesesatan, maka ia mendapatkan dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.”


5. Jika yang mengerjakannya adalah tokoh atau panutan

“Orang yang berbuat dosa, sedangkan ia adalah seorang alim yang menjadi panutan,” tulis Ibnu Qudamah dalam Mukhtashar Minhajul Qashidin, “jika ia paham dan tahu akan dosanya tetapi malah menerjang dosa tersebut, maka dosa kecilnya itu berubah menjadi dosa besar.”

Selain faktor peluang diikuti oleh umat/pengikutnya, dosa kecil yang dilakukan oleh seorang tokoh/ulama juga berpotensi membawa opini dan citra negatif terhadap Islam.


Demikian 5 sebab dosa kecil menjadi besar, semoga Allah menjauhkan kita dari kelimanya. []


* http://www.bersamadakwah.com/2012/03/5-sebab-dosa-kecil-menjadi-besar.html

Rabu, 30 Mei 2012

“PKS Mendingan Bubar Aja Deh…”

Logo PKS "Bekerja untuk Indonesia"
dakwatuna.com - Bismillahirrahmanirrahim…
Kita berbicara tentang sebuah partai politik di Indonesia kali ini, bukan Partai Demokrat sang pemenang pemilu 2009 atau pun Golkar pemenang pemilu 2004 atau PDIP pemenang pemilu tahun 1999, partai ini belum pernah menjadi pemenang pemilu, prestasi terbaiknya “hanya” menduduki peringkat ke-4 di Pemilu 2009 dan belum berhasil mencapai target suara yang telah dicanangkan, yaitu 20 juta suara di Pemilu 2009.

Partai itu adalah Partai Keadilan Sejahtera atau PKS. Partai  yang didirikan di Jakarta pada hari Sabtu, tanggal 9 Jumadil ‘Ula 1423 bertepatan dengan 20 April 2002. PKS adalah kelanjutan dari Partai Keadilan yang didirikan pada hari Senin, tanggal 26 Rabi’ul Awwal 1419 bertepatan dengan 20 Juli 1998.

Partai yang sudah melahirkan banyak tokoh dalam blantika politik Indonesia, seperti Nurmahmudi Ismail (mantan menteri Kehutanan dan sekarang Walikota Depok), Hidayat Nur Wahid (mantan ketua MPR) Tifatul Sembiring (Menkominfo), Gatot Pudjo Nugroho (Plt. Gubernur Sumatera Utara), Ahmad Heryawan (Gubernur Jawa Barat), Irwan Prayitno (Gubernur Sumatera Barat), Sa’aduddin (Bupati Bekasi) dan tokoh lainnya. Partai ini pun banyak menghasilkan  politisi muda yang cerdas, seperti Anis Matta, Fahri Hamzah, Andi Rahmat, Mahfudz Sidiq, Nasir Djamil, Mustafa Kamal dan politisi muda lainnya. Barisan wanitanya pun tak kalah hebat terlahir dari Partai ini, seperti Yoyoh Yusroh, Nursanita Naustion, Ledya Hanifa serta lainnya. Bukan di bidang politik saja, Partai ini pun banyak menelurkan para sastrawan hebat seperti Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, M. Yulius dan lain-lain.

Tapi bukan kehebatannya yang akan kita bicarakan saat ini. Ini masalah nasib PKS saat ini yang terasa “memprihatinkan”. Lihat saja beberapa bulan lalu mereka dikejutkan dengan manuver dari mantan pendiri mereka, sang Presiden PKS dikatakan sebagai mantan mujahidin Afghanistan yang membuat para pemilih PKS yang tidak terlalu “ekstrem” dalam masalah jihad memikirkan ulang untuk memilih PKS karena takutnya PKS punya “hidden agenda” untuk Indonesia. Lalu sang Presiden dilaporkan ke BK DPR-RI karena menerima uang dari Jusuf Kalla yang sudah dibantah sendiri oleh JK. Sang pelapor tidak membawa bukti apa-apa, selain “katanya”. Sekjennya pun dilaporkan ke KPK terkait dugaan penggelapan dana yang sudah di-clearkan juga karena jumlahnya berbeda dengan yang diaudit KPUD DKI kala itu. Belum lagi masalah 3 petingginya yang poligami, lalu laporan ke polisi tentang presidennya dan polisi menolak laporan tersebut. Semua ini jelas terlihat bahwa memang PKS saat ini sedang memprihatinkan.

Lihat saja, mana ada liputan tentang pekerjaan para kadernya di tingkat grassroot, adakah liputan tentang Forsitma (Forum Silaturahmi Majelis Ta’lim) atau liputan bahwa kader-kader partainya selalu mengadakan bakti sosial di tiap 2 bulan?? Tidak ada, yang ada paling hanya cibiran bahwa mendekati majelis ta’lim karena ingin suara, “mengadakan baksos kok pake cerita-cerita, itu riya namanya”. Apalagi yang dibutuhkan masyarakat sekarang bukan ikan tapi pancing, baksos cuma buat masyarakat jadi manja tidak mau bekerja, semua ini PKS-lah penyebabnya!!!

Ketika RATUSAN RIBU kadernya turun ke jalan untuk menyuarakan keadilan untuk sesama di belahan bumi lainnya, media pun melakukan korupsi berita, paling hanya ditulis ratusan atau ribuan, dan komentar yang akan muncul hanya “PKS selalu membuat sulit warga Jakarta dengan demonya, buat macet aja!!!” semua ini PKS-lah penyebabnya!!!
Tak pernah ada juga liputan tentang kader-kadernya yang berjasa, mereka lupa perda larangan merokok lahir dari para anggota DPRD dari PKS, kenaikan gaji PNS dan Tunjangan Kinerja Daerah untuk PNS DKI pun lahir dari tangan-tangan mereka, yang ada hanya “larangan merokok melanggar hak manusia dan menaikkan tunjangan PNS hanya membuat sembako tambah melambung” semua ini PKS-lah penyebabnya!!

Bukan hanya dari kalangan external, dari kalangan umat Islam pun PKS seperti “pesakitan” mereka dianggap berdakwah dengan cara yang haram, demokrasi itu haram!!! Karena mayoritas ulama mengatakan itu (yang ketika ditanyakan siapa saja ulamanya, tidak pernah dijawab) padahal ini hanya masalah khilafiyah saja. PKS juga dianggap telah keluar dari ciri khas dakwah mereka, semuanya sekarang berjas dan naik mobil mewah, “biasanya tuh PKS jalan kaki, masak sekarang naik mobil, gak militan!!” Sudah keluar dari khithahnya, karena para petinggi nya sudah hubbuddunya (cinta dunia) maka para umat Islam hari ini pun semakin banyak yang mengejar dunia, semakin banyak membuat usaha biar dapat penghasilan yang banyak… semua ini PKS-lah penyebabnya!!!

Mereka pun sekarang serba salah, seperti cerita tentang poligami misalnya, ketika ada yang mengatakan bahwa poligami beberapa petinggi PKS bermasalah, maka semua mencaci…”astaghfirullah ustadz kok begitu, pada zina semua” tapi ketika ditegaskan tidak ada yang bermasalah, karena PKS tidak melarang poligami, semua mencaci juga ,“ustadz gatel, doyannya kawin doang”
Ketika berita keburukan mereka ada di suatu media, lihatlah link-link lainnya tentang berita itu, banyak sekali, jika kita buka satu persatu, inti pemberitaannya sama, cuma judulnya saja. Media sedang menggiring pembaca mau baca berita yang mana saja, media sedang menghidangkan para pembaca judul yang berbeda, terserah mau baca yang mana intinya PKS buruk citranya.

Kalian pasti pernah dengan berita bahwa anggota dewan PKS tertanggap main judi kan?? Pasti, karena berita itu dimuat di semua media. Tapi tahukah kalian bahwa anggota dewannya sudah dipecat?? Tahukah Anda bahwa anggota dewan tersebut berasal dari eksternal PKS? Yang dirangkul untuk memastikan bawah PKS memang partai terbuka?? Hhmm sepertinya itu bukan berita yang bagus buat media, kecuali beberapa saja. Karena “bad news tentang PKS” adalah “good news” untuk media.

Sekarang posisi mereka serba salah,  ketika era tanzhimi dulu, kader PKS dikatakan eksklusif, tidak membaur dan ini tidak akan memuluskan dakwahnya, karena Islam itu rahmatan lil alamin, tidak tersekat, semua harus bisa menerima manfaat dari Islam, karena Islam bukan hanya untuk kader saja tapi untuk seluruh lapisan masyarakat. Tapi ketika PKS memproklamasikan bahwa mereka adalah partai terbuka, siapa saja boleh jadi anggotanya (bukan hanya kader) mereka pun dicaci, menghalalkan segala cara untuk dapat suara, berteman dengan kafir bahkan ada yang mengatakan semuanya akan masuk neraka (kayak neraka punya dia aja).

PKS, oh PKS, kasihan sekali nasib kalian, apapun yang kalian lakukan akan ada penentangnya, mending mundur sajalah, bubarkan partainya, kan enak tidak perlu mendengar cibiran banyak orang? Jangan nekad deh PKS. Ada bom buku di Utan Kayu aja, kalian kena getahnya. Jangan-jangan ketika misalkan kader kalian menjadi presiden suatu saat nanti, akan ada kudeta berdarah dari masyarakat, karena kalian tidak pernah disuka.

Tapi, ya kalau kalian tetap nekad, tetap kuat dengan cibiran semua pihak, tetap kokoh strukturnya, tetap membaca Qur’an walau buat acara di hotel, tetap membina ribuan halaqah yang di dalamnya membicarakan kebaikan, tetap banyak mendirikan sekolah islam terpadu dan pesantren-pesantren tahfizh, tetap kuat bekerja di grassroots, membina majelis ta’lim, membina pengajian kantoran, pengajian karang taruna, membina banyak majelis ta’lim membina rohis-rohis sekolah dan LDK kampus, ya sudah, saya tidak bisa banyak berkata, kau teruskan saja apa yang selama ini sudah kau lakukan, wahai PKS.

Dan izinkan aku ada di dalam barisan kalian, seraya meneriakkan takbir dan berkata “bekerja untuk Indonesia adalah ibadah”.

Senin, 28 Mei 2012

Menghilangkan Trauma Persepsi

  Ditulis oleh Ust. Hilmi Aminuddin

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh,  Alhamdulillah  alladzi a’zzanaa bil Islam, wa bihadyi nabiyyina Muhammadin khairil anaam, wash shalatu was salamu ‘alaa rasulillah wa ‘alaa aalihi wa ashaabihi ajma’iin..
Ikhwan dan akhwat fillah rahimakumullah,
Alhamdulillah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala secara terus menerus memberikan taufiq hidayah dan ri’ayah-Nya agar kita tetap bersama. Tetap bersama dalam jalan dakwah, tetap bersama dalam mardhatillah. Dan hari ini pun kita dihimpun dalam satu semangat kebersamaan dalam meningkatkan kerja dan kinerja dakwah kita, kerja dan kinerja taqarrub dan ta’abud ilallah, yang mudah-mudahan dengan demikian Allah menjadikan kita sebagai bagian khairun ummatin ukhrijat linnas.
Ikhwan dan akhwat fillah rahimakumullah,
Salah satu momentum acara nasional Hizb Al  ‘Adalah wal Rafahiyah, sejak ia bernama Hizb Al ‘Adalah, baru kali ini diselenggarakan di kota Bandung. Sebuah program rapat pimpinan nasional dari harokah Islamiyah diselenggarakan di kota Bandung, bagi saya ini sangat menyentuh.
Kalau kita lihat sejarah, sekian banyak pergerakan dimulai dan dikobarkan di Bandung. Pergerakan Islam pertama yang berlevel nasional, yaitu Syarikat Islam, juga dikelola dan dikobarkan di Bandung oleh rahimahullah Haji Oemar Sa’id Tjokroaminoto. Pergerakan nasional menuju kemerdekaan Indonesia juga dikobarkan di kota Bandung oleh Bung Karno. Banyak pergerakan yang lahir dari rahim kota Bandung. Apakah yang kiri, atau yang kanan. Ataukah kanannya kanan atau kirinya kiri. Atau kirinya kanan atau kanannya kiri. Kebetulan lahir di Bandung.
Kalau saja belum ditentukan oleh undang-undang bahwa ibukota Republik Indonesia itu adalah Jakarta dan pimpinan pusat dari organisasi di negara kita harus berada di Jakarta, maka sangatlah pantas kita canangkan bahwa kota Bandung sebagai ibukota dakwah. Dan, dari pandangan optimis, penyelenggaraan ini insyaAllah akan memberikan dorongan kuat bagi seluruh kader Jawa Barat. Dengan dukungan masyarakat, dukungan rakyat Jawa Barat untuk menyongsong, bukan saja kemenangan 2009, tapi juga kemenangan 2008 dalam tingkat PILKADA, yang salah satunya adalah pemilihan gubernur. Ini harus dijadikan muntholaq bagi seluruh kader-kader kita di Jawa Barat dan kader-kader seluruh Indonesia untuk mendoakan agar kemenangan- kemenangan 2008 itu bisa diraih oleh kader- kader kita. Dibantu doa dari seluruh kader dari segenap penjuru tanah air, dan insya Allah oleh saudara-saudara kita dari segenap penjuru dunia.
Ikhwan dan akhwat fillah rahimakumullah,
Seperti dalam tema RAPIMNAS ini, mudah-mudahan jadi muntholaq  untuk meraih kemenangan pemilu yang masanya kurang dari dua tahun lagi. Saya terpana dengan tema RAPIMNAS ini, walaupun saya baru baca malam ini: “Menyongsong Kemenangan 2009 dengan Meningkatkan Kapasitas Kepemimpinan dan Pelayanan.” Allahu Akbar!
Berbicara tentang kapasitas kepemimpinan, bukan terbatas kepemimpinan dalam lingkup kepemimpinan jamaah dakwah ini, tapi juga ruang lingkup kepemimpinan nasional. Agar setiap pimpinan negeri ini, seperti yang juga telah ditorehkan oleh para mjahidin dan jihadnya. Jihad perlawanan terhadap Belanda, jihad perlawanan terhadap Jepang, jihad perlawanan terhadap komunisme, muncul kepemimpinan- kepemimpinan nasional, dari mata rantai jihad itu, yang diakui maupun yang tidak diakui, yang mendapatkan bintang jasa dan yang tidak mendapatkan bintang jasa. Insya Allah, mudah-mudahan, kita adalah bagian dari mereka, yang akan melanjutkan perjalanan mereka, dan meraih kemenangan demi kemenangan yang telah dijanjikan oleh Allah, juga yang dicita-citakan leluhur kita.
Ikhwan dan akhwat fillah rahimakumullah,
Kepemimpinanyang kita maksud bukan semata kepemimpinan yang berlandaskan atau bertumpu atas kekuasaan (‘alal qa-idah sultthaniyah), tapi kepemimpinan yang bertumpu atas ruhiyah—maknawiyah—fikriyah, yang kekuasaannya didorong oleh semangat menyebarkan rahmatan lil’alamin. Sehingga melalui hal itu, semangat pelayanan juga akan dirasakan oleh segenap umat Islam Indonesia, segenap bangsa Indonesia, oleh segenap umat di dunia.
Untuk meningkatkan kapasitas kepemimpinan, atau dengan kata lain membangun kader kepemimpinan—yang tidak terbatas diharapkan oleh partai/jamaah ini, bahkan diharapkan oleh kemanusiaan ini—sudah barang tentu kita harus melakukan beberapa hal.

Pertama: Tathahhur (Membersihkan Diri)
Pertama, harus melakukan tathahhur, selalu membersihkan diri. Kata Allah, “Innallaha yuhibbu attawwabiina wa yuhibbul muthathahhirin.” Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang selalu membersihkan diri.
Di situ Allah bukan berfirman dengan “Mencintai orang-orang yang bersih.” Sebab, bukan kapasitas manusia untukmenjadi thahir (bersih). Bahkan dalam hadits qudsi, kata Allah: “Jika manusia menjadi bersih tanpa dosa, akan diganti oleh makhluk lain, yang berdosa kemudian minta ampunan”, yang lebih senang meminta ampunan atas dosanya kepada Allah.
Karena berdosanya manusia adalah untuk menampilkan keagungan ampunan Allah. Karakter manusia ada potensi untuk berbuat dosa. Siapapun ada potensi untuk kepleset. Tetapi sudah barang tentu jangan hobi kepleset. Kepleset kemudian tersadar. Setiap salah selalu tersadar. Setiap kesalahan selalu diikuti oleh sadar, sadar dan sadar, sehingga ia mencapai kemenangan. Oleh karena itu “SADAR” menang di Bekasi (Saaduddin—Darip, pasangan Bupati Bekasi dari Hizb Al  ‘Adalah wal Rafahiyah).
Kesadaran itulah yang membangkitkan semangat tathahhur –selalu berusaha membersihkan diri. Mungkin kita ingat hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang memberikan perumpamaan tentang orang-orang yang selalu menjaga shalat, muhafazhah ala asshalawat, yaitu bagaikan orang yang punya rumah di pinggir sungai, yang bila terkena kotoran selalu mandi. Perumpamaan ini merupakan perumpamaan yang sungguh luar biasa. Artinya ima kali shalat minimal akan menutup lima kali kesalahan, setiap kali salah ia mandi.
Saya bicara tentang tanmiyah an-nukhbah qiyadiyah, membangun kaderisasi kepemimpinan. Saya tidak berbicara tentang tathahhur fil wudhu atau tathahhur fi tazkiyatin nafs. Yang itu tidak ada hubungannya langsung dengan kepemimpinan. Tapi terkait dengan membangun kaderisasi kepemimpinan, sudah barang tentu ada tathahhur yang lebih dari itu.
Ikhwan dan akhwat fillah rahimakumullah,
Tathahhur ini sangat diperlukan, mengingat Indonesia ini salah satu negeri-negeri Islam, atau negeri-negeri dunia ketiga, yang dalam sejarahnya pernah mengalami masa yang sangat panjang dalam penjajahan. Bahkan setelah penjajahan pun, dibelenggu oleh kediktatoran sipil dan militer. Kita baru sembilan tahun terbebas dari mata rantai diktator penguasa penjajah dan diktator penguasa domestik, dari penguasa negeri ini, yang sipil ataupun militer. Hal ini selalu memunculkan apa yang disebut al uqdah adzdzahniyyah, trauma persepsi yang berlanjut kepada trauma mental.
Kadangkala kita terjebak oleh paradigma-paradigma berfikir lama. Jadi yang pertama kita harus lakukan adalah membebaskan dan melepaskan diri dari trauma persepsi, akibat panjangnya penindasan, panjangnya pengekangan, panjangnya penderitaan, panjangnya himpitan, dalam segala sektor –ekonomi, politik, sosil, budaya. Dan sampai sekarang umat Islam di Indonesia, belum menjadi tuan rumah di negeri sendiri karena masih didikte oleh kepentingan-kepentingan global. Yang mendikte sebenarnya tidak salah, yang salah yang nurut kepada pendikte.
Ikhwan dan akhwat fillah rahimakumullah,
Tathahhur atau membersihkan diri, dalam tanmiyah an nukhbah qiyadiyah adalah harus selalu membersihkan diri (takhalus) dari trauma persepsi ini. Ada tujuh trauma persepsi yang kita harus membersihkan diri darinya.

1. Pertama, al uqdah al inhizamiyah, yaitu trauma persepsi selalu kalah kalau bertarung.  
Kader kita insya Allah adalah yang paling minim mengalami trauma ini. Bahkan mudah-mudahan tidak ada trauma persepsi itu. Itu bukan saja dibuktikan dalam Pemilu 2004, tapi juga dalam Pilkada. Dari 138 pilkada, kita memenangkan 81 pilkada. Berarti kader-kader kita sebenarnya sudah sadar dan bersih dari trauma persepsi ini. Sadar akan potensi diri, sadar akan misi diri, sadar akan tugas diri, dan bahwa kemenangan pada hakikatnya adalah milik Allah, dan Allah akan memberikan kepada siapapun yang dikehendaki-Nya. Waman-nashru illa min ‘indillahih ‘azizil hakiim. Dari 183 pilkada, dengan segala kekurangan, dengan segala kesalahan, dan bahkan dengan segala keluguan, kita menang. Insya Allah kader kita sudah mampu membebaskan diri dari al uqdah al inhizamiyah. Sampai yang secara hitungan suara kalah, secara hitungan politik dan dakwah kita menang. Dan hal ini diakui oleh semua orang. Misalnya di pilkada DKI Jakarta mass media menulis: Foke unggul, Hizb Al  ‘Adalah wal Rafahiyah menang.
Jadi semangatnya harus semangat tahqiqul intisyaraat, merealisir kemenangan- kemenangan yang dijanjikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kalau kebetulan ada kekalahan,itu adalah kemenangan yang ditangguhkan.
Ikhwan dan akhwat fillah rahimakumullah,
Jadi al uqdah al inhizamiyah harus dicuci bersih dari kita, tidak boleh ada. Memang kita mulai dari tidak punya apa-apa, tidak punya pengalaman, tidak punya tokoh. Waktu bikin partai, kader kita 3000. Saya merasa waktu itu jumlah yang sedikit untuk mendirikan partai. Ternyata itu kebanyakan untuk mendirikan awal. Dan, ternyata kemudian kader kita ada yang jadi DPR, Ketua MPR, Bupati, Walikota, Wakil Gubernur.

2. Kedua, al uqdah al istihdafiyah, yaitu trauma persepsi yang merasa kalau kita ini jadi objek terus.
Merasai dikepung terus. Bertemu orang deg-degan. Bertemu hansip kaget. Melewati ekantor Koramil merinding. Kalau sekarang jangan begitu. Berkali-kali saya mengatakan kepada ketua-ketua DPW, bahwa antum ini setara dan sejajar dengan gubernur, Pangdam, bahkan insyaAllah lebih bi taqwakum (dengan takwa antum). Kepada ketua-ketua DPD saya katakan, antum ini sejajar dengan Bupati, Kapolres, Walikota, Dandim, Ketua Kejaksaan Negeri, Ketua Pengadilan Negeri, bahkan insyaAllah lebih bitaqwakum. Begitu juga kepada Ketua DPC, DPRa.
Jadi dengan al uqdah al istihdafiyah, artinya kita merasa jadi sasaran terus, dikepung, bila orang datang merasa akan mengerjain. Akhirnya  tidak bisa ofensif dan kerjanya hanya defensif. Senjata kita cuma perisai, dan tidak bisa menyerang, membuat orang lain menembaki kita terus-menerus. Padahal, ibaratnya, bisa jadi kita tidak perlu perisai itu, kita lempar kepada mereka. Nastahdifuhum wala yastahdifuunana. Kita harus tathahhur membersihkan diri dari al uqdah al istihdafiyah.

3. Ketiga, al uqdah almuamaratiyah, yaitu mentalitas merasa orang-orang lain sedang bersekongkol melawan kita.
“Wah mereka sedang berkumpul, nanti bersekongkol, bagaimana nih.” Padahal belum tentu. Al Quran menyatakan: tahsabuhum jami’an wa qulubuhum syatta. Mengapa kita menganggap mereka bersatu bersekongkol, merasa ada konspirasi, apakah lokal, apakah nasional, apakah global, secara berlebihan. Awas jangan ngobrol dengan dia, nanti terbawa, nanti hanyut. Awas kita dijegal secara politik. Kalau kader ditarbiyyah bertahun-tahun gampang hanyut itu bukan kader, tapi itu orang keder. Kita harus berani menghadapi tantangan-tantangan semuanya.
Perasaan dikepung dan ada konspirasi, kalau sudah menjadi ‘uqdah membuat kita tidak akan mampu menghadapi konspirasi meski kecil. Karena yang membesarkan dan memberikan pengaruh kepad konspirasi itu kita sendiri.

4. Keempat, al uqdah arraj’iyyah, yaitu trauma bahwa kita ini terbelakang.
Merasa bahwa kita ini anak-anak baru tumbuh, sebagian sekolah belum tamat, belum punya rumah, belum punya pekerjaan. Tertinggal ekonomi, pendidikan, sosial dan budaya. Merasa berada di barisan belakang, nafsiyah raj’iyah, nafsiyah takhaluf. Padahal Allah Subhanahu wa taala, dan Rasulullah menghendaki kita untuk wasari’u, fastabiqul khairat. Bermusara’ah dalam meraih kebajikan. Semangat berlomba, semangat kompetisi, semangat berpacu untuk selalu ada di barisan terdepan. Berani tampil ke depan. Karena terbukti, ketika ikhwan dan akhwat berani tampil ke depan, diakui oleh semua orang. Mobilitas ikhwan dan akhwat banyak  diakui. Kita diakui sebagai partner pemerintah, bahkan partnership dengan lembaga-lembaga internasional.
Kalau semangatnya raj’iyah, ketertinggalan, keterbelakangan, terseok-sok, ketinggalan di ujung barisan, sudah barang tentu, na’udzubillahi, kita bukan hanya ditinggal oleh umnat, tapi juga oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebab Allah menghendaki bertanafus, bermusara’ah dan bermusabaqah.

5. Kelima, al uqdah salbiyah, yaitu trauma persepsi yang berpikiran selalu negatif.
Tidak mempunyai pandangan ijabiyatu ru’yah, pandangan positif baik ke dalam mapun keluar. Orang ini datang mau apa ya? Jangan-jangan mau mengawasi kita. Bisa-bisa mau ini-mau itu. Yang lebih mengerikan kalau ke dalam. Ada yang meihat ikhwan dan akhwat salah sedikit lalu berkata, wah, jamaah dakwah ini ancur, mau ambruk. Jamaah dakwah ini sekarat.
Pikiran seperti itu, pertama-tama menunjukkan lam yaskurillah, tidak mau bersyukur kepada ni’mat Allah. Kita ini jamaah manusia, bukan jamaah malaikat, ada kekurangan dan ada kelebihan. Yang penting proses tathahhur, proses perbaikan terus berlangsung melalui tawashaw bilhaq, tawashaw bish-shabr, tawashaw bil marhamah.
Umar bin Khatthab mengatakan: tarqul harakah ‘uqlah. Membangun harakah itu belenggu. Kalau ada yang mengaami hambatan ekonomi, terkena musibah, kita bangkitkan lagi dengan tawashaw bil marhamah. Tangan-tangan marhamah ikhwan dan akhwat harus menyentuh ikhwan dan akhwat lain yang terkena musibah.
Ikhwan dan akhwat fillah rahimakumullah,

6. Keenam,  al uqdah al kamaliyah,  yaitu trauma persepsi yang cenderung  perfectionist.
Merasa kita ini kurang ini kurang itu. Jangan dulu begitu. Lebih parah lagi akibat uqdah al kamaliyat akhirnya mempengaruhi opini orang lain, dan membuat mereka menuntut kita untuk selalu sempurna. Hadzihi ‘uqdah qatilah, ini adalah trauma yang bisa membunuh kita sendiri. Sebab mereka menuntut yang sempurna dari kita yang tidak sempurna. Kita memang menjaga citra, tapi citra sebagai manusia. Citra sebagai manusia muslim bukan citra sebagai malaikat. Malaikat sifatnya baik tapi tidak memiliki keinginan-keinginan. Saya ingat dulu pelajaran di madrasah:
Al malaikatullati
laisa laha abun walaa ummun.
La akla la syurba
Wa la naumu lahum.
Bahwa malaikat itu tidak punya ayah ibu, tidak perlu makan dan minum maupun tidur. Sedangkan kita punyakebutuhan-kebutuhan. Dalam memenuhi kebutuhan itu kita melakukan kesalahan-kesalahan.
Jadi kita ini mujtama’ basyari, jamaah basyariyah. Uqdah kamaliyat ke dalam, apalagi kalau berbentuk keluar, akan berbahaya. Beban akan bertambah, langkah akan terhambat. Palagi kalau ada opini publik terhadap diri kita bahwa diri kita sempurna. Hal itu sama dengan mempersiapkan pedang untuk menyembelih diri kita sendiri.

7. Ketujuh, al uqdah at taba’iyyah, yaitu trauma persepsi dari orang-orang yag tidak mau kreatif, maunya mengikuti
Hobinya berkalau. Kalau kayak organisasi itu, kalau kayak yayasan itu, kalau kayak partai itu, kalau… kalau… Kata Rasulullah kata “law” itu merupakan membuka pintu syetan. Memang, kata Rasulullah, “Al hikmatu dhaalatul muslim.” Yang penting harus kita perhatikan itu hikmah kebajikannya. Tapi bagi orang yang punya uqdah attaba’iyyah tidak peduli apakah itu baik atau tidak, yang penting ikuti. Ini berbahaya. Kita harus takhalus (membebaskan diri) dari uqdah attaba’iyyah. Naudzubillah kalau saja ada dalam diri kita salah satu dari trauma bukan saja persepsi tapi trauma moral yang mejadi beban. Akhirnya kita tidak bisa bergerak. Padahal Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam memperingatkan kita sebagaiman dalam haditsnya, “Innamannasu kal ibilil mi-ah. Laa takaadu tajid fiiha raahilah.” Manusia itu bagai 100 unta, hampir saja dari 100 itu tidak didapatkan 1 ekor unta beban.
Kader ikhwan dan akhwat ini adalah pemikul risalah muhammadiyah. Kalau ia sendiri mengalami uqdah at taba’iyyah, maka akan jadi beban, artinya repot menggotong-gotong diri sendiri. Repot menggotong kader yng menjadi beban. Seluruh kita harus menjadi pemikul beban.


*.http://www.pks-jakbar.or.id/?page=berita-detail.html&news=24

Minggu, 27 Mei 2012

Wasiat Hasan Al Banna

 

“Saudaraku,

Janganlah engkau putus asa, karena putus asa bukanlah akhlak seorang muslim. Ketahuilah bahwa kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin, dan impian hari ini adalah kenyataan di hari esok. Waktu masih panjang dan hasrat akan terwujudnya kedamaian masih tertanam dalam jiwa masyarakat kita, meski fenomena-fenomena kerusakan dan kemaksiatan menghantui mereka. Yang lemah tidak akan lemah sepanjang hidupnya dan yang kuat tidak akan selamanya kuat.


Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,


“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi), dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman serta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu,” (Al Qashash: 5-6)


Putaran waktu akan memperlihatkan kepada kita peristiwa-peristiwa yang mengejutkan dan memberikan peluang kepada kita untuk berbuat. Dunia akan melihat bahwa dakwah kita adalah hidayah, kemenangan, dan kedamaian, yang dapat menyembuhkan umat dari rasa sakit yang tengah dideritanya. Setelah itu tibalah giliran kita untuk memimpin dunia, karena bumi tetap akan berputar dan kejayaan itu akan kembali kepada kita. Hanya Allah-lah harapan kita satu-satunya.


Bersiap dan berbuatlah, jangan menunggu datangnya esok hari, karena bisa jadi engkau tidak bisa berbuat apa-apa di esok hari.


Kita memang harus menunggu putaran waktu itu, tetapi kita tidak boleh berhenti. Kita harus terus berbuat dan terus melangkah, karena kita memang tidak mengenal kata “berhenti” dalam berjihad.


Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,


“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, sungguh akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami.” (Al Ankabut: 69)


Hanya Allah-lah Dzat yang Mahaagung, bagi-Nya segala puji.”


Hasan Al Banna

 

*.http://www.hasanalbanna.com/wasiat-hasan-al-banna-2/

Kepemimpinan Dalam Islam

Dalam buku “Ushuulud Da’wah“, Dr Abdul Kariim Zaidan mengemukakan bahwa pada hakikatnya kepemimpinan adalah hak publik (ummat). Publik berhak memilih pemimpin mereka, sebagaimana mereka juga berhak mencabut mandat dari pemimpin mereka.

Seorang pemimpin dibutuhkan dalam rangka mengorganisir publik untuk menjaga kemashlahatan dalam kehidupan bersama mereka. Fitrah manusia adalah makhluk sosial yang memerlukan penataan. Tanpa adanya penataan, tentu akan terjadi kekacauan. Kehidupan perlu diorganisasikan, dan kepemimpinan adalah bagian tak terpisahkan dalam pengorganisasian.

Selain itu, banyak perintah agama baik dalam Alqur’an maupun dalam hadits-hadits yang shohih yang mengandung perintah yang dialamatkan kepada orang banyak, kepada ummat, kepada publik, tidak kepada individu. Sekedar contoh misalnya perintah untuk mengajak kepada kebaikan, perintah untuk alamru bil ma’ruuf, perintah untuk annahyu ‘anil munkar, perintah untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, dll. Isi (content) dari perintah tersebut memang memerlukan kerja kolektif, tidak mungkin bisa dilaksanakan secara individual. Kerja kolektif itu memerlukan pengorganisasian, dan pengorganisasian memerlukan kepemimpinan.

Dari dua hal di atas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah kebutuhan publik, baik untuk menjaga kemaslahatan di antara mereka maupun untuk menjalankan tugas-tugas yang menjadi beban mereka. Oleh karena itu publiklah yang paling berhak untuk menentukan siapa yang akan mereka serahi sebagai pemimpin mereka. Merka juga berhak untuk mencabut mandat kepemimpinan itu jika ternyata pemimpin tersebut tidak mampu lagi menjalankan amanah publik itu.

Prinsip tersebut tampak dari praktek politik zaman Khulafaur Rasyidin. Abu Bakar As Shiddiq menjadi pemimpin karena kesepakatan publik. Umar Ibnul Khattab menjadi pemimpin karena kesepakatan publik yang kebetulan tidak berbeda dengan pendapat Abu Bakar sebelum beliau wafat. Beliau menjadi pemimpin bukan karena wasiat Abu Bakar As Shiddiq. Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalibpun menjadi pemimpin karena kesepakatan publik. Tidak ada satupun dari mereka yang menjadi pemimpin karena keturunan, atau karena penunjukan oleh pemimpin sebelumnya.

Karena kepemimpinan adalah hak publik, maka merekalah yang berhak menentukan pemimpin yang mereka kehendaki. Demikian juga jika karena sesuatu hal pemimpin tidak lagi mampu menjalankan amanah publik tersebut maka publik berhak untuk mencabut hak kepemimpinannya dan digantikan orang lain yang mereka sepakati. Publik berhak untuk menyepakati mekanisme teknis untuk menentukan jabatan kepemimpinan di antara mereka, sebagaimana mereka juga berhak membuat ketentuan-ketentuan teknis yang dianggap memberi kemaslahatan untuk kehidupan mereka, misalnya adanya batas masa jabatan seorang pemimpin.

Pemimpin yang telah dipilih wajib ditaati, kecuali nyata-nyata memerintahkan hal-hal yang menyimpang dari tuntunan Allah SWT. Dalam hal-hal yang sifatnya ijtihad, hak pengambilan keputusan ada ditangan pemimpin tersebut.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang banyak musyawarahnya sebelum mengambil keputusan. Musyawarah tidak harus kepada semua orang, tetapi bisa dipilih orang-orang yang dianggap berkompeten dalam masalah yang dibicarakan. Jika untuk kepentingan ini perlu ada kelembagaan, boleh saja dibuat.

Hak publik adalah memberi masukan kepada pemimpin, baik diminta maupun tidak diminta. Kewajiban publik adalah menasihati pemimpin agar tidak menyimpang dari amanah yang mereka berikan.

Menurut hemat saya, sampai batas tertentu, demokrasi memiliki ruang yang sejalan dengan prinsip dasar kepemimpinan Islam tersebut. Bahwa demokrasi menghasilkan pemimpin yang belum ideal menurut kriteria Islam, itu adalah bab bagaimana kita membentuk ‘selera’ masyarakat agar memiliki pilihan yang sejalan dengan nilai-nilai Islam. Itu adalah bab membangun kesadaran publik untuk menentukan pilihan yang benar. Itu adalah bab dakwah. Wallahu a’lamu bis showab

Makkah, 3 Desember 2008

 

*.http://www.hasanalbanna.com/kepemimpinan-dalam-islam/

Mau Masuk Surga, Tempuhlah Jalannya!


Oleh: Badrul Tamam


Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menjanjikan surga bagi hamba-hamba yang taat kepada-Nya. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah yang telah menjelaskan semua jalan ke surga dan menyuruh umat untuk menempuhnya, juga kepada para keluarga dan sahabatnya.

Allah telah menyiapkan surga bagi para hamba yang taqwa. Kenikmatannya tak ada bandingannya. Allah menggambarkannya sebagai kenikmatan yang tak pernah dilihat mata, didengar telinga, dan terbersit dalam hati hamba. Maka bayangan seseorang tentang kenikmatan surga tak akan pernah sama persis dengan hakikatnya.

Sesungguhnya semua yang ada di dunia tidak akan bisa menyamai sedikit saja dari kenikmatan surga. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskan,

مَوْضِعُ سَوْطٍ فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Satu tempat di surga yang sebesar cambuk lebih baik dari dunia dan seisinya.” (HR. al-Bukhari, Ibnu Majah, Ahmad dan lainnya dari Sahal Bin Sa’id al-Sa’idi)

وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ

“Demi Allah! Tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti seseorang dari kalian yang memasukkah satu jarinya ke laut, -hendaknya dia melihat, apa yang didapatkannya.” (HR. Muslim)

Maksudnya, bahwa bila pendeknya waktu dunia dan kenikmatannya yang fana dibandingkan dengan abadinya akhirat dan kenikmatannya, tidak lain kecuali seperti air yang menempel pada jari tangan seseorang setelah dicelupkan di laut dengan banyaknya air laut, sungguh tidak sebanding. (Lihat Syarah Shahih Muslim milik Imam Nawawi)

Dalam riwayat Thabrani yang disebutkan Syaikh Wahid Abdul Salam Bali dalam Shifat al-Jannah, perhiasan penghuni surga yang paling rendah kualitasnya lebih baik daripada seluruh perhiasan penduduk surga.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga pernah menjelaskan tentang beberapa macam pahala yang akan diberikan kepada orang yang mati syahid, beliau bersabda; “Dikepalanya dipakaikan mahkota kebesaran yang mana satu mutiara Yakutnya lebih baik daripada dunia seisinya.” (HR. al-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Maka siapa yang mengetahui keutamaan kenikmatan akhirat (surga) yang kekal dan tidak akan punah dibandingkan kenikmatan dunia -seindah dan sebanyak apapun itu- yang pasti akan hilang dan punah, maka dia tidak akan mengutamakan yang fana atas yang abadi. “Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (QS. Al-Nahl: 96)

Orang berakal pasti akan mengutamakan kebaikan akhiratnya dan menempuh jalan yang bisa menghantarkan ke sana dengan tetap melaksanakan kebutuhan materi dan dunianya. Allah Ta’ala berfirman,

وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77)

Apa Amalan Ahli Surga?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah al-Harrani rahimahullaah menyatakan bahwa tidak mungkin mengungkap semua amalan-amalan ahli surga dengan rinci. Namun secara global amalan ahli surga semuanya masuk kategori ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan itu teringkas dalam iman dan takwa, yang mencakup amal batin dan dzahir.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ

“Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. Al-Nisa’: 13-14)

Berikut kami paparkan beberapa amalan ahli surga yang beliau rahimahullaah sebutkan secara rinci dalam Majmu’ Fa tawanya: 2/387-388:

Amalan-amalan ahli surga: iman kepada Allah, Para malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para rasul-Nya, dan hari akhir serta beriman kepada qadar (takdir) yang baik maupun yang buruknya.

Amalan ahli surga: Bersyahadat Laa Ilaaha Illallah (Tiada Tuhan yng berhak diibadahi kecuali Allah) dan Muhammad rasulullah (Nabi Muhammad adalah utusan Allah), mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadlan, dan berhaji ke Baitullah. Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah meliha-Nya, dan jika tidak bisa, maka yakinilah bahwa Dia melihatmu.

Di antara amalan-amalan ahli surga: Berbicara jujur, menunaikan amanat, menepati janji, birrul walidain (berbakti kepada orang tua), menyambung hubungan kerabat, berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, dan yang menjadi tanggungannya dari kalangan manusia atau binatang.

Di antara amalan ahli surga lainnya: Ikhlas beribadah kepada Allah, bertawakkal kepada-Nya, cinta kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, takut kepada Allah dan berharap rahmat-Nya, kembali kepada-Nya, bersabar menetapi hukum-Nya, dan menyukuri nikmat-nikmat-Nya.

Di antara amalan ahli surga: Suka membaca Al-Qur’an, berdzikir kepada Allah, berdoa kepada-Nya, meminta dan berharap kepada-Nya.

Di antara ahli surga: Beramar ma’aruf (menyuruh orang berbuat kebaikan), bernahi munkar (melarang orang dari berbuat buruk), berjihad di jalan Allah dalam memerangi orang kafir munafikin.

Di antara amalan ahli surga: Adil dalam semua urusannya, adil terhadap semua makhluk sampai terhadap orang kafir, dan amalan-amalan yan serupa.

Di antara amalan ahli surga: Menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, memberi kepada orang yang pelit kepadamu, memaafkan orang yang menzalimimu, karena Allah menyediakan surga bagi orang-orang bertakwa, yaitu orang-orang yang tetap berinfak dalam kondisi lapang maupun sempit, menahan amarah, memaafkan manusia, dan Allah menyukai orang-orang yang senantiasa berbuat baik. Wallahu’ Ta’ala a’lam. [PurWD/voi]

*)http://kabarhati.com/news/pandu-hati/12195/


*posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Indonesia

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons | Re-Design by PKS Piyungan