Hamasah di Jalan Da'wah
Perjalanan dakwah masih panjang. Salah satu faktor yang membuat kita dapat bertahan dan terus eksis di jalan dakwah adalah adanya hamasah (semangat) dan iradah (kehendak) kuat yang tertanam dalam jiwa kita.
Jama'ah Penuh Berkah
Tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Kadar tsiqah antara qiyadah dan jundiyah menjadi penentu bagi sejauh mana kekuatan sistem jamaah, kemantapan langkah-langkahnya, keberhasilan dalam mewujudkan tujuan-tujuannya, dan kemampuannya dalam mengatasi berbagai tantangan dan kesulitan.
AYO BERESIN JAKARTA
"Menuju Jakarta yang SEJAHTERA, MODERN dan BERBUDAYA"JAKARTA SEJAHTERA - JAKARTA MODERN - JAKARTA BERBUDAYA"
Inilah Jalan Kami
Katakanlah: "Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik". (12:108)
Coblos Batiknya No. 4
Biduk kebersamaan kita terus berjalan. Dia telah menembus belukar, menaiki tebing, membelah laut. Adakah di antara kita yang tersayat atau terluka ? Sayatan luka, rasa sakit, air mata adalah bagian dari tabiat jalan yang sedang kita lalui. Dan kita tak pernah berhenti menyusurinya, mengikuti arus waktu yang juga tak pernah berhenti.
Jumat, 01 Juni 2012
Perjalanan Da'wah Dibalik Peristiwa Isra Mi'raj
Latar Belakang Isra’ dan Mi’raj
1. Ummul Mukminin Khadijah -radhiyallahu ‘anha- , sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits, adalah:
- Wanita dan bahkan manusia pertama yang beriman kepada Rasulullah SAW.
- Seorang mukmin yang mengorbankan seluruh hartanya untuk dakwah, dan
- Seorang istri, yang darinya Rasulullah SAW mempunyai anak (keturunan).
2. Abu Thalib, meskipun belum beriman, namun, mengingat posisinya sebagai paman Rasulullah SAW, ia telah membela Rasulullah SAW dengan sangat luar biasa.
Namun, di tahun itu, keduanya meninggal dunia, maka beliau SAW sangat bersedih, dan karenanya, tahun itu disebut ‘amul huzni (tahun kesedihan). Kesedihan itu semakin lengkap, manakala Rasulullah SAW mencoba membuka jalur dakwah baru, Thaif. Siapa tahu, Thaif yang sejuk, dingin, hijau, mempunyai pengaruh besar terhadap warganya, sehingga sikap mereka barangkali sejuk dan segar dalam menerima dakwah beliau SAW. Tidak seperti Mekah (saat itu) yang keras, semuanya tertutup batu, sehingga “membatu” sikap mereka terhadap dakwah. Namun, bukannya kedatangan Rasulullah SAW di Thaif disambut, tapi malah disambit.
Singkat cerita, dalam perjalanan pulang ke Mekah, terjadi tiga peristiwa:
1. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang bernama Adas, dari Nainuwa, kampung halaman nabi Yunus AS. Dalam pertemuan itu, Adas menyatakan masuk Islam. Hal ini seakan mengatakan kepada Rasulullah SAW: “Jangan bersedih wahai Muhammad, kalau orang Mekah, orang Arab tidak mau beriman, jangan bersedih, nih buktinya, orang Nainuwa mau beriman”.
2. Rasulullah SAW bertemu dengan sekelompok jin, dan saat dibacakan Al-Qur’an kepada mereka, mereka menyatakan beriman. Hal ini seakan memberi message kepada Rasulullah SAW: “Seandainya pun seluruh manusia tidak mau beriman, engkau pun tidak peru bersedih wahai Muhammad SAW, sebab, bangsa jin telah membuktikan bahwa mereka siap beriman kepadamu”.
3. Peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Hal ini seakan berkata kepada Rasulullah SAW: “Bahkan, seandainya pun seluruh penghuni bumi, baik manusia maupun jin, tidak mau beriman kepadamu wahai Muhammad, engkau pun tidak perlu bersedih, sebab, buktinya, masyarakat langit semuanya gegap gempita menyambut kedatanganmu”.
Dari sudut pandang ini, peristiwa Isra’ dan Mi’raj merupakan tasliyah (pelipur lara) yang sangat luar biasa bagi Rasulullah SAW.
Lalu apa pelipur lara kita?
Mestinya adalah shalat, sebab oleh-oleh Isra’ dan Mi’raj utamanya adalah shalat, dan Rasulullah SAW menjadikan shalat sebagai qurratu ‘ain dan sekaligus rahah (rehat). Wallahu a’lam.
Oleh: Musyafa Ahmad Rahim, Lc
Detik yang Berkualitas
Mungkin karena kita lena tentangnya maka pada suatu waktu nanti kita akan teringat juga, teringat tentang beberapa keputusan yang kita buat di masa yang lampau. Tentang detik-detik keputusan itu.
Bahwa saat itulah, ternyata adalah detik berharga dalam hidup kita. Di mana peluang dibentangkan, apakah berujung kepada kesyukuran ataupun kesabaran akan takdir yang kuasa.
Namanya Hanzhalah bin Abi Amir Radiallahuanhu. Temanten baru yang malamnya berduaan dengan istrinya, tetapi pagi punya cerita lain untuknya. Seruan Jihad. Gunung UHUD menunggu.
Memperoleh detik berkualitasnya ketika terjadi pertarungan batin. Pertarungan batin untuk memenangkan ke-absurd-an kenikmatan dunia ataukah memenangkan kekekalan janji langit. Maka lihatlah Hanzhalah segera bersicepat memenuhi janji langit, secepat-cepatnya, segiat-giatnya. Hingga belum melakukan mandi janabat menuju syahidnya pada saat perang UHUD saat itu juga. Subhanallah.
Dan kita dengarkan Rasulullah bersabda, “Sungguh Aku melihat Malaikat memandikan Hanzhalah bin Amir RA antara langit dan bumi dengan air awan dalam bejana terbaut dari perak.”
Adalagi riwayat teladan tentang Umair bin Hammam membuang kurma sambil berkata, “Bakh! Bakh! Tidaklah aku dapat masuk ke dalam jannah kecuali aku harus terbunuh oleh musuh.” Kemudian dia membuang kurma yang ada di genggaman tangan dan segera menghunus pedang untuk memerangi musuh sampai dia terbunuh. Dan dia Umair bin Hamman pun mendapat detik keputusan yang berkualitas dalam hidupnya. Segera menyongsong kebaikan yang agung dengan tanpa menunggu menghabiskan kurma di tangan.
Ada banyak cerita lain yang sungguh luar biasa untuk kita jadikan pijakan tentang orang-orang mulia di sekitar Nabi. Orang-orang mulia yang sering memperoleh detik berkualitas dalam hidupnya. Karena Quran bersama mereka, karena sunnah menghiasi hidup mereka.
Seperti kata pak Steven Covey yang sering kita dengar juga. Bahwa 10% dari hidup adalah apa yang terjadi pada diri kita. Sedangkan 90% lainnya adalah reaksi apa yang kita lakukan dari apa yang terjadi.
Tentu saja dengan mengesampingkan benar tidaknya perbandingan prosentase yang ada. Paling tidak seperti itulah kurang lebihnya. Semua dari kita bisa menerima apapun dalam hidup ini. Bisa senang, bisa suka bisa duka. Namun beda orang akan beda juga cara memaknai hidup. Maka dari pemaknaan inilah tentunya akan menghujung pada keadaan yang berbeda pada tiap orang. Walaupun masalah yang diterima sama. Tapi karena detik penentuan yang berkualitas ini berbeda, maka tentu saja keadaan yang dicapai pun akan berbeda pula semestinya.
Silakan meminta pada Allah Tuhan kita, silakan belajar dengan sebenar-benar belajar dan silakan berkumpul dengan orang-orang baik dan shalih. Karena dari Allah dan orang-orang itu kita berusaha menyesap energi yang sebanyak-banyaknya, energi langit yang seluas-luasnya. Karena dengan membersamainya – Allah dan orang-orang shalih- kita akan lebih mengerti cara menuju hidup yang sesungguhnya. Karena dengannya pula kita akan dalam tuntunan sesungguhnya. Agar kita mendapat detik yang berkualitas dalam hidup kita.
Dan sidang pembaca yang berbahagia silakan memilah dan memilih detik-detik yang berkualitas dalam hidup njenengan. Silakan
Jadilah Seperti Air
Allah menciptakan apa-apa yang ada di langit dan di bumi, agar kita mampu berfikir dan menelaah. Saat kita duduk di tepi sungai, akan kita rasakan serasinya ciptaan Allah. Batu yang sangat keras dan kokohnya, air yang mengalir sangat lembut. Tidakkah kita mampu menerapkannya dalam kehidupan yang sebenarnya.
Kita ambil ‘ibrah dari air dan batu yang dapat bekerja sama dengan satu harmoni yang sangat indah sesuai kehendak-Nya. Begitulah seharusnya kita bersikap dan bertindak dalam dakwah ini. Dakwah ini tidak akan berjalan dengan segelintir orang saja, tetapi atas banyak unsur yang berjalan dengan serasi. Begitu indah pelajaran yang bisa kita tarik dalam setiap ciptaan-Nya.
Dakwah ini tidak akan berjalan dengan selalu memperselisihkan tugas,
“Ini hak Antum, ini hak Ane. Ini kewajiban Antum, dan ini kewajiban Ane,”
Malulah kita dengan apa yang terjadi dengan air dan batu. Tidak ada pertikaian di antara mereka. Kita sama-sama muslim dan kita adalah saudara.
Memahami keadaan itu, kita akan menemukan sebuah pelajaran penting dalam ukhuwah. Hati kita harus selalu dijaga kelembutannya, agar ruh-ruh kita tetap bercahaya. Kita dalam dakwah ini bukan saling terikat membebani, melainkan untuk saling tersenyum memahami dan saling mengerti dengan kelembutan nurani.
Tertatih kita menjalani kehidupan dalam dakwah ini, menyambung silaturahim yang terasa kering, dan hubungan yang terasa sangat pahit. Saat kita memaknai dan menamakan hubungan ini karena Allah maka semuanya akan terasa indah dan sejuk dalam sanubari.
Dakwah ini meniti jalan yang sangat terjal dan berliku, penuh dengan onak dan duri. Kembali kita meluruskan niat, mengokohkan tekad, menguatkan simpul komitmen kita dalam dakwah dan menunaikan setiap tanggungan amal-amal yang harus di tunaikan. Tanpa harus memikulkan tanggungan kita kepada yang lain, atau membebankan tugas yang seharusnya dipikul bersama kepada sebagian dan bahkan seorang saja.
Berusaha mengukur sendiri kemampuan diri untuk mampu mengukur kemampuan orang lain. Saat kita merasa itu berat bagi kita jangan lantas di alihkan ke salah seorang ikhwah kita.
Jangan tanyakan lagi tentang keikhlasan kepada mereka, karena mereka akan dengan rela dibebani banyak tugas meski yang lain dalam keadaan tenang karena bebas tugas. Yang mereka pikirkan adalah pahala dan cinta dari Tuhannya.
Tapi apakah kita tega dan bersenang hati melihat saudara kita terbebani? Dia tertatih dengan tugasnya sementara kita menyibukkan diri dengan kehidupan pribadi?
“Cintailah orang lain sebagaimana kau ingin dicintai. Perlakukanlah orang lain, sebagaimana kau ingin di cintai.”
Maka orang lain akan banyak yang salah paham. Ada yang merasa tersakiti dan terluka dari cara kita menyayanginya. Dan orang akan merasa kita tidak mencintainya padahal itu wujud cinta kita padanya.
Maka gantilah bunyinya, “Cintailah orang lain sebagaimana mereka ingin di cintai. Perlakukan orang lain dengan cara sebagaimana mereka ingin diperlakukan.”
Dengan begitu maka dakwah dan ukhuwah ini akan terasa indah. Tidak ada yang merasa hanya sebagian yang terbebani dan sebagian bebas dari tugas.
Maka mencobalah untuk menanyakan kepada saudara kita. Dan pahami setiap kemampuan diri kita adalah berbeda. Dengan meminta masukan pendapat itu maka akan semakin menguatkan persaudaraan dan melimpahkan ketulusan.
Muzammil Yusuf : Lembaga Survei Jangan Coreng Keilmuan
Tim Hidyat Temukan Ratusan Ribu Pemilih Bermasalah
Subhanallah..Allah Ciptakan Kucing Begitu Mengagumkan
15.48
Dpra-Slipi






